MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Pendiri Sapience Institute, Hamza Andreas Tzortzis, menegaskan bahwa apa yang kerap disebut sebagai problem of evil (masalah kejahatan dan penderitaan) bukanlah bukti ketiadaan Tuhan, melainkan kesalahpahaman dalam memahami sifat, hikmah, dan tujuan penciptaan manusia.
Hal itu ia sampaikan dalam Public Lecture yang diselenggarakan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jumat (20/12).
Dalam pemaparannya, Hamza menjelaskan bahwa pertanyaan tentang keberadaan Tuhan akibat maraknya kejahatan dan penderitaan tidak hanya muncul di kalangan ateis, tetapi juga menghantui sebagian umat beragama, termasuk Muslim. Keraguan tersebut, menurutnya, bisa berkembang menjadi syubhat yang merusak relasi spiritual seseorang dengan Allah, bahkan berujung pada meninggalkan agama.
“Masalah kejahatan sering dirumuskan dengan asumsi bahwa Tuhan tidak mungkin Mahabaik, Maha Pengasih, dan Mahakuasa jika di dunia terdapat penderitaan yang begitu besar. Namun, asumsi ini keliru secara logika,” tegas Hamza.
Hamza menilai argumen tersebut gagal karena hanya menyoroti sebagian sifat Tuhan, sembari mengabaikan sifat-Nya yang lain, khususnya al-‘Alīm dan al-Ḥakīm—Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Menurutnya, Allah tidak hanya Mahabaik dan Mahakuasa, tetapi juga memiliki hikmah sempurna yang melampaui pengetahuan manusia.
Ia mengilustrasikan hal ini dengan kisah seorang ayah yang menjatuhkan anaknya demi mencegahnya berlari ke arah api. Dari sudut pandang anak, tindakan itu tampak menyakitkan dan jahat, tetapi dari sudut pandang sang ayah, itu adalah pencegahan dari bahaya yang lebih besar.
“Allah memiliki gambaran utuh, sementara kita hanya melihat satu piksel,” ujarnya.
Dengan demikian, keberadaan penderitaan tidak meniadakan Tuhan, melainkan menuntut kerendahan hati manusia untuk mengakui keterbatasan akalnya.
Al-Qur’an sebagai Argumen Terbesar
Hamza menekankan bahwa Al-Qur’an telah menyediakan jawaban mendalam atas persoalan penderitaan. Salah satu contohnya adalah kisah Nabi Musa dan Khidr dalam Surah al-Kahfi. Tindakan-tindakan Khidr—melubangi perahu, membunuh seorang anak, dan membangun kembali tembok tanpa upah—pada awalnya tampak sebagai kejahatan. Namun pada akhirnya, semua itu terungkap memiliki hikmah ilahi yang tidak diketahui Nabi Musa sejak awal.
Kisah ini, menurut Hamza, mengajarkan bahwa penderitaan sering kali baru dapat dipahami setelah manusia melihat gambaran besar yang disingkap Allah.
Dalam konteks dakwah, Hamza menyebut upaya menjawab keraguan intelektual sebagai salah satu bentuk jihad terbesar. Mengutip QS al-Furqan ayat 52, ia menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah senjata utama dalam menghadapi penolakan terhadap kebenaran.
Ia juga merujuk pemikiran Ibnu Hazm yang membagi jihad ke dalam tiga bentuk: jihad fisik, jihad strategis, dan jihad intelektual dengan argumen Qur’ani. Menurut Hamza, umat Islam hari ini perlu menjadi “penjaga batas intelektual” (intellectual ribat) agar mampu menjawab tantangan pemikiran modern.
Hamza menjelaskan bahwa Al-Qur’an secara eksplisit menyebut kehidupan sebagai ujian. Penderitaan menjadi masuk akal ketika kehidupan dipahami sebagai arena penilaian moral dan spiritual. Selain itu, penderitaan berfungsi sebagai sarana pertumbuhan, penyucian dosa, dan peningkatan derajat manusia.
Ia juga mengutip sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa orang-orang yang wafat akibat musibah—seperti tenggelam, tertimbun reruntuhan, atau penyakit berat—tergolong syahid dan mendapat balasan surga.
“Dengan makna yang benar, penderitaan tidak menghancurkan manusia, tetapi justru mengangkatnya,” ujar Hamza.
Salah satu penekanan utama dalam ceramah ini adalah pentingnya cognitive reframing—memberi makna yang benar terhadap penderitaan. Hamza mencontohkan dua orang yang sama-sama kehilangan pekerjaan, tetapi merespons dengan makna yang berbeda: satu terjerumus pada keputusasaan, sementara yang lain melihatnya sebagai peluang mendekat kepada Allah.
Ia juga mengulas bagaimana Allah menghibur Nabi Muhammad SAW atas wafatnya putra beliau melalui Surah al-Kautsar, bukan dengan belasungkawa biasa, tetapi dengan kabar gembira tentang karunia yang berlimpah dan abadi.
“Dalam kondisi syukur, sangat sulit bagi seseorang untuk tenggelam dalam penderitaan,” katanya.
Menutup ceramahnya, Hamza menyinggung penderitaan rakyat Gaza sebagai contoh nyata bagaimana iman mampu memberi makna pada tragedi paling kejam. Ia menilai respons spiritual masyarakat Gaza—yang tetap memuji Allah di tengah kehancuran—menjadi pelajaran besar bagi dunia.
“Mereka tidak mempertanyakan keberadaan Tuhan, tetapi memperdalam keimanan. Karena mereka memberi penderitaan makna yang Allah kehendaki,” ujarnya.
Hamza menyimpulkan bahwa apa yang disebut sebagai problem of evil sejatinya bukan masalah teologis, melainkan masalah ego manusia yang ingin Tuhan tunduk pada sudut pandangnya. Menurutnya, pemahaman yang utuh tentang Allah dan rujukan pada Al-Qur’an akan menunjukkan bahwa penderitaan bukanlah absurditas, melainkan bagian dari rencana ilahi yang penuh hikmah.
“Al-Qur’an memiliki jawaban atas semua persoalan ini. Allah Maha Mengetahui,” pungkasnya.






