Jumat, 25 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Mari Kita Kuatkan Iman untuk Melawan Godaan Zaman

Oleh admin • • 3 Menit Min
Mari Kita Kuatkan Iman untuk Melawan Godaan Zaman

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Miftahulhaq, mengingatkan pentingnya menjaga iman dan berpegang pada nilai-nilai kebaikan di tengah derasnya godaan zaman.

Pesan itu disampaikan dalam ceramah di Masjid KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (4/12), saat ia mengulas hadis tiga orang yang terjebak dalam gua—sebuah hadis masyhur dalam Arba’in An-Nawawi.

Dalam ceramahnya, Miftahulhaq menegaskan bahwa hadis tersebut lazim dipahami sebagai dalil kebolehan bertawasul dengan amal saleh ketika seseorang menghadapi kesulitan. Namun, kali ini ia menawarkan perspektif berbeda: mengkontekstualisasikan kisah itu dengan tantangan moral masyarakat modern.

Kisah pertama dalam hadis menggambarkan seorang anak yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia mendahulukan kebutuhan orang tuanya meski harus menahan lapar keluarganya sendiri hingga fajar menyingsing.

Menurut Miftahulhaq, spirit ini relevan di tengah meningkatnya kecenderungan masyarakat yang kesulitan merawat orang tua karena kesibukan, gaya hidup serba cepat, dan tempat tinggal yang sempit. Ia menyinggung fenomena menitipkan orang tua sepenuhnya ke panti jompo.

“Godaannya jelas: kesibukan pekerjaan, tuntutan karir, kehidupan apartemen, hingga diaspora yang hidup jauh dari orang tua,” ujarnya. Padahal, kata dia, berbakti kepada orang tua merupakan bagian dari perintah Allah, termasuk dosa besar bila ditinggalkan.

Ia menekankan bahwa beratnya berbakti justru muncul saat seseorang berada pada puncak kesibukan, sementara orang tua mulai memasuki usia senja.

Kisah kedua dalam hadis menceritakan seorang laki-laki yang menahan diri dari perbuatan zina meski dihadapkan pada godaan berat dari wanita yang dicintainya.

Miftahulhaq mengaitkan kisah ini dengan fenomena pergaulan bebas di kalangan remaja dan mahasiswa. Ia menyinggung laporan mahasiswa koas kedokteran UMY yang menemukan banyak pasien remaja dengan masalah penyakit kelamin, baik dari hubungan sesama jenis maupun lawan jenis.

“Yang membuat laki-laki itu mundur adalah iman,” tegasnya. Menurutnya, hanya iman yang dapat menjadi benteng untuk menjaga kehormatan diri ketika seseorang berada dalam ruang privat atau saat pengaruh pergaulan begitu kuat.

Ia mengingatkan bahwa memilih hidup “lebih berat”—misalnya tidak mengikuti tren pacaran atau kebiasaan teman sebaya—lebih baik daripada melanggar ajaran agama.

Kisah ketiga dalam hadis mengangkat persoalan amanah: seorang pekerja yang pergi tanpa mengambil upahnya, kemudian upah tersebut diinvestasikan oleh si majikan hingga berkembang pesat. Ketika si pekerja kembali, seluruh hasil perkembangan itu diberikan kepadanya tanpa dikurangi sedikit pun.

Miftahulhaq menilai bahwa pesan ini relevan dengan persoalan korupsi, pelanggaran komitmen, serta hilangnya budaya amanah di masyarakat sekarang. Ia menyebut tanda-tanda kemunafikan yang digambarkan Nabi: ketika berbicara berdusta, diberi amanah berkhianat, dan berjanji mengingkari.

“Ini godaan nyata pada era sekarang: hoaks, korupsi, manipulasi anggaran, dan meremehkan janji,” ujarnya. Keteladanan dalam hadis menunjukkan bahwa menjaga amanah adalah cerminan iman.

Menguatkan pesannya, Miftahulhaq mengutip Surah Yusuf ayat 33, menggambarkan bagaimana Nabi Yusuf mampu menghadapi godaan karena pertolongan Allah, bukan semata kekuatan pribadinya.

“Yang bisa menyelamatkan kita dari dilema moral bukan hebatnya diri kita, tetapi rahmat Allah,” tegasnya. Karena itu, ia mendorong jamaah untuk memohon penjagaan Allah melalui iman yang kuat, doa, dan kepatuhan pada aturan agama.

Di akhir ceramah, Miftahulhaq menekankan bahwa menjaga iman berarti siap menjalani pilihan hidup yang lebih berat—ditinggalkan teman, dianggap tidak gaul, atau tidak mengikuti arus—demi menghindari perbuatan maksiat.

“Kalau kita ingin penjagaan Allah, kuatkan iman. Ikuti perintah Allah, bukan hawa nafsu,” pesannya.

Tinggalkan Balasan