Senin, 5 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Mari Kita Jadikan Malam Tahun Baru sebagai Momentum Muhasabah

Oleh ilham • • 3 Menit Min
Mari Kita Jadikan Malam Tahun Baru sebagai Momentum Muhasabah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANDUNG — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, Jamjam Erawan, mengajak keluarga Muhammadiyah menjadikan pergantian tahun sebagai momentum refleksi diri dan penguatan nilai keislaman dalam keluarga.

Ajakan itu disampaikan dalam pemaparannya pada kegiatan Gerakan Subuh Mengaji, Kamis (11/12), menjelang berakhirnya tahun 2025 dan masuknya tahun 2026.

Jamjam mengawali pemaparannya dengan menggambarkan tradisi pergantian tahun yang lazim dirayakan masyarakat dunia dengan berbagai agenda dan aktivitas. Mulai dari berkumpul di alun-alun, berlibur ke pantai, gunung, hotel, hingga melakukan perjalanan bersama komunitas.

Namun, ia menekankan bahwa bagi keluarga Muhammadiyah, esensi malam tahun baru tidak terletak pada tempat, melainkan pada makna dan nilai yang ditanamkan.

“Di mana pun kita mengakhiri tahun, di rumah, masjid, pantai, gunung, atau tempat lain, yang paling penting adalah bagaimana momentum itu dimanfaatkan untuk muhasabah dan penanaman nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam keluarga,” ujar Jamjam.

Menurutnya, kepala keluarga memegang tanggung jawab besar terhadap keselamatan dan masa depan pasangan serta anak-anak. Karena itu, malam tahun baru dinilai sebagai kesempatan berharga untuk melakukan perenungan bersama, mengevaluasi perjalanan hidup selama setahun, sekaligus menyusun langkah perbaikan untuk tahun berikutnya.

Jamjam menjelaskan bahwa muhasabah dalam tradisi Islam bermakna menghitung dan mengevaluasi diri. Muhasabah berarti melakukan introspeksi, menimbang amal perbuatan, serta merancang langkah terbaik untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Hidup, katanya, tidak cukup diorientasikan pada keberhasilan duniawi, tetapi juga harus mengarah pada keselamatan akhirat.

Ia mengaitkan pentingnya muhasabah dengan landasan Al-Qur’an, salah satunya Surah Al-Hasyr ayat 18 yang memerintahkan setiap orang beriman untuk memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.

Ayat ini, menurut Jamjam, relevan untuk dijadikan pedoman evaluasi keluarga, baik dalam aspek ibadah, pendidikan, karier, maupun kehidupan sosial.

Selain itu, ia juga menyinggung Surah At-Tahrim ayat 6 yang menegaskan kewajiban menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Ayat tersebut, kata Jamjam, bukan sekadar peringatan yang menimbulkan rasa takut, melainkan dorongan untuk melakukan langkah nyata dalam membina keluarga agar tetap berada di jalan yang diridai Allah.

Dalam konteks keluarga Muhammadiyah, Jamjam menegaskan bahwa muhasabah juga berkaitan dengan peran keluarga sebagai pilar utama kehidupan umat dan bangsa. Ia merujuk Putusan Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Jakarta yang menegaskan keluarga sebagai tempat sosialisasi nilai-nilai kehidupan Islami dalam rangka mewujudkan keluarga sakinah menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

“Kita sering sibuk berjuang di Persyarikatan, aktif di luar rumah, tetapi kadang lupa bertanya apakah pasangan dan anak-anak kita memahami, menghayati, dan siap melanjutkan perjuangan itu,” ujarnya.

Jamjam mengingatkan bahwa kontribusi terbesar bagi bangsa dan negara tidak selalu berbentuk jabatan atau materi. Mendidik anak-anak agar tumbuh menjadi pribadi saleh dan berakhlak mulia justru merupakan kontribusi paling fundamental bagi terciptanya masyarakat yang aman, tenteram, dan berkeadaban.

Dalam pemaparannya, Jamjam juga menguraikan beberapa aspek yang dapat dijadikan bahan muhasabah keluarga pada malam tahun baru. Salah satunya adalah aspek spiritual, yang mencakup penguatan tauhid, pembiasaan ibadah, dan kedekatan dengan Allah. Ia mendorong keluarga untuk saling mengevaluasi praktik ibadah, seperti menjaga wudu, salat berjamaah di awal waktu, membaca Al-Qur’an dan hadis setiap hari, serta membiasakan puasa sunah.

Ia menekankan bahwa pembiasaan spiritual tidak hanya berdampak pada kualitas ibadah, tetapi juga membentuk akhlak, moral, dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Tauhid, menurutnya, bukan sekadar doktrin, melainkan harus hidup dan mewarnai seluruh perilaku anggota keluarga.

Selain aspek spiritual, Jamjam menyinggung pentingnya aspek intelektual, yakni membangun budaya membaca dan belajar dalam keluarga. Ia mendorong orang tua untuk memastikan pendidikan anak-anak berjalan optimal, sekaligus mengenalkan ideologi, tujuan, dan pedoman perjuangan Muhammadiyah melalui berbagai buku rujukan resmi Persyarikatan.

Menurut Jamjam, pengenalan nilai dan literatur Muhammadiyah sejak dini penting agar anak-anak memahami alasan orang tua berkhidmat di Persyarikatan dan terdorong menjadi generasi penerus.

“Organisasi ini bisa bertahan lebih dari satu abad karena kaderisasi yang kuat, dan kader itu lahir dari keluarga,” katanya.

Menutup pemaparannya, Jamjam mengajak keluarga Muhammadiyah untuk memanfaatkan malam tahun baru sebagai momen yang berkesan bagi anak-anak. Ia menilai momen khusus seperti pergantian tahun mudah diingat dan dapat menjadi sarana efektif menanamkan nilai-nilai keislaman, kekeluargaan, dan semangat berjuang.

“Mari jadikan malam tahun baru sebagai titik tolak perubahan diri dan keluarga menuju kehidupan yang lebih bermakna dan diridai Allah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan