MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Pengajian Ahad Kliwon yang digelar pada Ahad (14/12) menghadirkan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Jaya Putra, sebagai penceramah.
Bertempat di hadapan jamaah, ia mengajak umat melihat musibah bukan sekadar sebagai peristiwa tragis, tetapi sebagai cermin untuk berintrospeksi, sarana ujian keimanan, sekaligus panggilan untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan.
Mengawali ceramah, Budi Jaya Putra menyinggung berbagai bencana alam yang belakangan melanda sejumlah daerah di Indonesia, seperti banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Ia menyebut Yogyakarta sebagai wilayah yang “berpengalaman” menghadapi bencana, mengingat gempa besar tahun 2006 serta erupsi Gunung Merapi pada 2010. Pengalaman pribadi itu menjadi pengantar untuk menegaskan bahwa musibah adalah bagian dari realitas kehidupan manusia.
Dalam perspektif Islam, menurutnya, segala peristiwa harus dipandang secara positif dan jujur. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Asy-Syura ayat 30:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.”
Ayat ini, kata Budi Jaya Putra, mengajarkan umat untuk berhenti menyalahkan pihak lain dan mulai bercermin pada diri sendiri. Musibah, baik dalam skala personal maupun sosial, sering kali merupakan konsekuensi dari perilaku manusia. Dalam konteks bencana alam, ia mencontohkan banjir yang terjadi akibat saluran air tersumbat sampah, atau longsor akibat penggundulan hutan. Semua itu bukan ulah alam semata, melainkan akibat tindakan manusia.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa tidak semua musibah lahir dari kesalahan langsung korban. Ada pula musibah yang berfungsi sebagai ujian keimanan. Hal ini ditegaskan Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 155:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami uji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Menurutnya, sering kali seseorang tidak menjadi pelaku kerusakan, tetapi tetap ikut merasakan dampaknya. Di situlah makna ujian bekerja. Sikap yang dituntut bukan keluh kesah, melainkan kesabaran dan keyakinan bahwa setiap kesulitan pasti berlalu.
Budi Jaya Putra juga mengingatkan sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa setiap rasa lelah, sakit, sedih, dan kesusahan yang menimpa seorang Muslim akan menjadi penghapus dosa. Karena itu, menghadapi musibah dengan sabar bukan hanya menenangkan hati, tetapi juga bernilai ibadah.
Selain aspek spiritual, ceramah ini menekankan pentingnya solidaritas sosial. Ia mengutip hadis Nabi:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain bagaikan bangunan yang saling menguatkan.”
Ketika ada saudara yang tertimpa musibah, kata dia, kewajiban umat Islam adalah membantu sesuai kemampuan, baik dengan harta, tenaga, doa, maupun dukungan informasi. Ia mengapresiasi peran Muhammadiyah melalui Lazismu dan MDMC yang sigap merespons bencana. Hingga awal Desember, Lazismu tercatat telah menghimpun dana kemanusiaan hingga belasan miliar rupiah untuk penanganan bencana.
Menutup ceramah, Budi Jaya Putra mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali bahwa kerusakan di muka bumi berakar dari kerusakan hati manusia. Karena itu, upaya mencegah bencana tidak cukup dengan langkah teknis, tetapi harus dimulai dari pembenahan moral dan spiritual.
Ia mengajak seluruh jamaah Muhammadiyah, dari tingkat ranting hingga pusat, termasuk para simpatisan, untuk menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, peduli sesama, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Dengan cara itulah, musibah tidak hanya dipahami sebagai peringatan, tetapi juga momentum untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih beriman.






