Selasa, 22 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Keseimbangan Alam adalah Prinsip Dasar Ajaran Islam

Oleh ilham 3 Menit Min
Keseimbangan Alam adalah Prinsip Dasar Ajaran Islam

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Qaem Aulassyahied, menegaskan bahwa keseimbangan merupakan karakter fundamental ajaran Islam yang tidak dapat dipisahkan dari seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam relasi dengan alam semesta.

Hal tersebut disampaikannya dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jumat (12/12).

Mengutip pandangan ulama kenamaan Syekh Yusuf al-Qardhawi, Qaem menjelaskan bahwa Islam memiliki karakter mutawazin atau mizan, yakni keseimbangan. Prinsip ini, menurutnya, secara konsisten hadir dalam seluruh ajaran Islam.

“Allah menetapkan satu prinsip yang tidak pernah absen dalam ajaran Islam, yaitu keseimbangan. Ketika ajaran ini dipelajari dan diamalkan, maka keseimbangan itu akan ditemukan dalam seluruh aspek kehidupan,” ujarnya.

Ia memaparkan bahwa Islam mengajarkan perhatian yang seimbang antara jasad dan batin, antara orientasi akhirat dan tanggung jawab duniawi. Islam juga menawarkan pola hidup ideal, namun tetap realistis dengan mengakui keterbatasan dan potensi kesalahan manusia. Semua itu, menurutnya, merupakan bukti nyata bahwa keseimbangan adalah ciri inheren ajaran Islam.

Lebih jauh, Qaem menekankan bahwa prinsip keseimbangan tidak hanya berlaku dalam kehidupan manusia, tetapi juga menjadi fitrah penciptaan alam semesta. Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa bumi diciptakan dengan segala sesuatu yang mauzun—terukur dan seimbang.

Kata mauzun ini, lanjutnya, dipahami para ulama tafsir sebagai sesuatu yang ditetapkan ukurannya, diciptakan dengan presisi, terdistribusi secara proporsional, serta memiliki manfaat yang nyata bagi kehidupan manusia.

Dari berbagai penafsiran tersebut, Qaem menyimpulkan bahwa alam semesta diciptakan Allah dalam kondisi seimbang, terukur, dan adil. Seluruh sumber daya alam disediakan sesuai kebutuhan manusia, dengan syarat manusia mengikuti batasan dan ukuran yang telah ditetapkan. Namun, Islam juga memberikan peringatan tegas agar manusia tidak merusak keseimbangan tersebut.

Mengutip Surah Ar-Rahman, Qaem mengingatkan bahwa Allah melarang manusia bertindak thaghā—bertindak sewenang-wenang dan zalim—karena tindakan tersebut akan merusak keseimbangan alam.

“Merusak keseimbangan berarti melakukan kezaliman. Kezaliman bukan hanya mendatangkan dosa bagi pelakunya, tetapi juga membawa mudarat dan bencana bagi orang lain,” tegasnya.

Ia kemudian mengaitkan prinsip tersebut dengan realitas bencana alam yang terjadi belakangan ini, khususnya di wilayah Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh pada akhir November lalu.

Menurut Qaem, bencana banjir dan longsor yang menelan ratusan korban jiwa merupakan dampak dari ketidakseimbangan alam akibat ulah manusia, mulai dari eksploitasi energi fosil berlebihan, emisi karbon yang tidak terkendali, hingga deforestasi masif.

Qaem memaparkan bahwa hutan sejatinya dirancang Allah untuk mengelola curah hujan melalui mekanisme alami penahanan air dan penyerapan tanah. Namun, ketika hutan digunduli, fungsi tersebut hilang.

Ia menyebut data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) yang mencatat deforestasi hutan Indonesia mencapai ratusan ribu hektare dalam kurun 2021–2024. Akibatnya, hujan ekstrem yang turun tidak lagi dapat dikendalikan, sehingga memicu banjir dan longsor dengan kerugian jiwa dan materi yang sangat besar.

“Semua ini adalah bukti nyata ketika manusia sebagai khalifatullah gagal menjaga keseimbangan yang telah Allah tetapkan di muka bumi,” ujarnya.

Qaem menutup khutbah pertamanya dengan mengingatkan ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa kerusakan di darat dan laut tampak nyata akibat perbuatan tangan manusia sendiri, agar manusia menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan yang benar.

Pada khutbah kedua, Qaem mengajak jamaah untuk berdoa agar Allah menjaga iman dan ketakwaan umat Islam, serta menjadikan mereka khalifah di bumi yang benar-benar bertanggung jawab dalam menjaga keseimbangan alam.

Qaem juga memanjatkan doa bagi para korban bencana agar diberi kesabaran, keberkahan, dan ganjaran atas musibah yang mereka alami.

Tinggalkan Balasan