Kamis, 5 November 2026
ID EN AR
ID EN AR

Islam Berkemajuan sebagai Jalan Beragama yang Ditempuh Muhammadiyah

Oleh ilham • • 4 Menit Min
Islam Berkemajuan sebagai Jalan Beragama yang Ditempuh Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA—Pengajian Malam Selasa yang digelar pada Senin (15/12) menghadirkan Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Gita Danu Pranata, sebagai penceramah.

Dalam pengajian yang diikuti santri dan jamaah Muhammadiyah tersebut, Gita mengajak peserta memahami secara mendalam konsep Islam Berkemajuan sebagai fondasi ideologis, teologis, dan praksis gerakan Muhammadiyah.

Mengawali kajian, Gita menjelaskan bahwa tema Islam Berkemajuan sering kali dipersepsikan sebagai istilah baru yang dirumuskan dalam Muktamar Muhammadiyah di Surakarta tahun 2022. Bahkan, tidak sedikit yang mempertanyakan urgensinya atau menganggapnya sebagai konstruksi pemikiran generasi pimpinan Muhammadiyah masa kini.

Padahal, menurutnya, istilah kemajuan telah melekat sejak awal berdirinya Muhammadiyah.

Ia menelusuri dokumen-dokumen resmi persyarikatan, termasuk Statuten Muhammadiyah tahun 1912, yang secara tegas menyebut tujuan Muhammadiyah adalah memajukan hal agama kepada anggota-anggotanya. Dua tahun kemudian, semangat kemajuan itu kembali ditegaskan dalam rumusan penyebaran ajaran Nabi Muhammad Saw kepada masyarakat bumiputra di wilayah Yogyakarta.

“Fakta historis ini menunjukkan bahwa konsep kemajuan bukanlah produk baru, melainkan ruh yang lahir bersama kelahiran Muhammadiyah itu sendiri,” ucap Gita.

Gita juga mengingatkan pesan Kiai Ahmad Dahlan kepada murid-muridnya agar menjadi kiai yang berkemajuan dan tidak pernah merasa lelah dalam berkhidmat untuk Muhammadiyah.

Pesan tersebut, menurutnya, sering kali disalahpahami akibat pemenggalan kata dan konteks. Hakikatnya, pesan itu adalah dorongan agar warga Muhammadiyah tidak pernah jenuh, apatis, atau bekerja sekadarnya dalam memajukan persyarikatan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Risalah Islam Berkemajuan merupakan konsep dasar dan pandangan Muhammadiyah yang menjadi landasan ideologis, teologis, dan praksis gerakan. Risalah ini dapat dipahami sebagai tafsir keislaman yang menekankan nilai kemajuan, modernitas, serta relevansi Islam dalam menjawab tantangan zaman.

“Kodifikasi resminya memang disusun dalam Muktamar Surakarta, tetapi substansinya telah hidup dan dijalankan sejak awal sejarah Muhammadiyah,” terang Gita.

Menjawab pertanyaan sebagian jamaah tentang perlunya penegasan istilah Islam Berkemajuan, Gita menegaskan bahwa Islam Berkemajuan sejatinya adalah Islam itu sendiri. Apabila ajaran Islam dijalankan dengan benar, maka kemajuan akan lahir secara alami.

Sebaliknya, ketika umat Islam atau organisasi keislaman tidak menunjukkan kemajuan, hal itu menandakan adanya kekeliruan, kekurangan, atau aspek yang belum disempurnakan dalam pengamalannya.

Ia menambahkan, semakin mendalami dokumen-dokumen resmi Muhammadiyah justru tidak membuat warga persyarikatan bingung atau ragu. Sebaliknya, pemahaman tersebut akan semakin memantapkan pilihan berislam melalui manhaj Muhammadiyah. Islam Berkemajuan, menurutnya, bukan beban ideologis, melainkan peta jalan dalam menjalankan agama secara sadar, rasional, dan berorientasi kemaslahatan.

Gita kemudian memaparkan struktur dan isi Risalah Islam Berkemajuan, yang mencakup konsep dasar, karakteristik, manhaj, serta gerakan Islam Berkemajuan. Gerakan tersebut meliputi dakwah, tajdid, ilmu, dan amal. Selain itu, terdapat dimensi pengkhidmatan yang luas, mulai dari keumatan, kebangsaan, kemanusiaan, global, hingga orientasi masa depan.

Seluruhnya terhubung dengan dokumen-dokumen ideologis Muhammadiyah, seperti Mukadimah Anggaran Dasar, Kepribadian Muhammadiyah, Manhaj Tarjih, hingga konsep Negara Pancasila Darul Ahdi wa Syahadah.

Dalam kesempatan itu, Gita menegaskan lima karakteristik utama Islam Berkemajuan yang harus dijalankan secara utuh.

  • Pertama, berlandaskan tauhid.
  • Kedua, bersumber pada Al-Qur’an dan Sunah.
  • Ketiga, menghidupkan ijtihad dan tajdid.
  • Keempat, mengembangkan sikap wasathiyah atau moderasi.
  • Kelima, mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Kelima karakteristik ini, menurutnya, menjadi identitas utama warga Muhammadiyah dalam beragama.

Wasathiyah Bukan Sikap Abu-abu

Ia memberi penekanan khusus pada karakteristik wasathiyah. Berdasarkan pengalamannya, tema moderasi beragama sering kali disalahpahami sebagai sikap abu-abu atau tidak tegas. Padahal, wasathiyah adalah posisi tengah yang menjauhi ekstrem kanan maupun kiri. Sikap ini menuntut kedalaman pemahaman, bukan sekadar slogan.

Gita mengaitkan konsep wasathiyah dengan pendekatan bayani, burhani, dan irfani dalam beragama. Pendekatan bayani menekankan teks Al-Qur’an dan Sunah, burhani bertumpu pada rasionalitas dan ilmu pengetahuan, sementara irfani menyentuh dimensi rasa dan pengalaman spiritual. Ketiganya, menurutnya, harus berjalan secara eklektik dan seimbang.

Ia mencontohkan pengalaman selama pandemi Covid-19, termasuk kebijakan rukhsah tidak melaksanakan salat Jumat demi menghindari bahaya. Keputusan tersebut bukan bentuk pengabaian agama, melainkan implementasi Islam Berkemajuan yang mempertimbangkan teks, ilmu kedokteran, dan kemaslahatan umat.

Pengalaman pribadi terkait vaksinasi dan dinamika internal organisasi juga ia jadikan refleksi tentang pentingnya keberanian bersikap moderat di tengah tekanan sosial dan stigma keagamaan.

Dalam bagian lain, Gita mengkritik kecenderungan beragama yang mudah melabeli bidah, khurafat, dan tahayul tanpa pemahaman mendalam. Ia mengisahkan pengalamannya sendiri yang pernah bersikap ekstrem hingga menolak ziarah kubur, termasuk ke makam orang tua.

Padahal, ziarah kubur tidak dilarang dalam Islam selama dilakukan sesuai tuntunan. Sikap melarang secara mutlak, menurutnya, justru merupakan bentuk ekstremitas yang bertentangan dengan prinsip wasathiyah.

Ia juga menyinggung isu seni dan budaya yang kerap diperdebatkan di lingkungan Muhammadiyah. Merujuk pada dokumen resmi persyarikatan, termasuk Himpunan Putusan Tarjih, Gita menegaskan bahwa seni dan budaya tidak diharamkan secara mutlak.

“Justru, jika dikelola dengan bijak, seni dapat menjadi sarana dakwah dan pencerahan,” ujar Gita.

Menutup pengajian, Gita menegaskan bahwa Islam Berkemajuan menuntut pengamalan seluruh prinsip secara utuh, tidak parsial. Tauhid, ijtihad, moderasi, dan rahmatan lil ‘alamin harus berjalan beriringan.

Pengajian Malam Selasa ini, menurutnya, menjadi pengantar untuk diskusi yang lebih mendalam, sekaligus ajakan agar warga Muhammadiyah semakin mantap menjalani Islam dengan manhaj berkemajuan.

Tinggalkan Balasan