Jumat, 25 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Integrasi Perspektif Psikologi Modern dan Islam dalam Memahami Kesehatan Mental

Oleh admin • • 2 Menit Min
Integrasi Perspektif Psikologi Modern dan Islam dalam Memahami Kesehatan Mental

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Pengajian Tarjih Muhammadiyah pada Rabu (03/12) menghadirkan paparan komprehensif tentang kesehatan mental dari Rof’ah, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Dalam pemaparannya, Rof’ah mengawali sesi dengan membacakan QS. Yunus ayat 57, ayat yang menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya menjadi pedoman hidup, tetapi juga menghadirkan “syifa”—penyembuh bagi manusia.

Dari ayat itu ia mengantar audiens untuk memahami bagaimana agama memberi kontribusi terhadap ketenangan jiwa.

Rof’ah kemudian menyoroti meningkatnya perhatian generasi muda terhadap isu kesehatan mental. Ia merujuk sejumlah data prevalensi yang kerap muncul di berbagai survei nasional, seperti temuan yang menyebut 6,1% penduduk usia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental emosional, 19 juta menghadapi gangguan emosional, dan sekitar 12 juta mengalami depresi.

Meski angka-angka tersebut bervariasi antar lembaga, Rof’ah menilai bahwa gambaran itu cukup menunjukkan betapa massifnya isu tersebut.

Namun sebelum mengaitkan kesehatan mental dengan ibadah, ia menegaskan perlunya kesepahaman mengenai definisi kesehatan mental itu sendiri. Mengutip WHO, Rof’ah menekankan bahwa kesehatan mental bukan sekadar ketiadaan gangguan psikologis, melainkan kondisi positif ketika seseorang mampu mengenali potensi dirinya, mengatasi tekanan hidup secara wajar, bekerja produktif, serta memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Dalam perspektif psikologi modern, kesehatan mental mencakup kemampuan meregulasi emosi, membangun hubungan interpersonal yang sehat, resiliensi terhadap kesulitan, hingga berfungsi optimal dalam peran sosial. Semua komponen itu, menurut Rof’ah, saling berhubungan dan menentukan kualitas psikologis seseorang.

Ketika berpindah ke perspektif Islam, Rof’ah menunjukkan adanya tumpang tindih sekaligus pengayaan. Islam, tuturnya, tidak hanya bicara regulasi emosi atau hubungan sosial, tetapi juga memasukkan dimensi spiritual dan kedamaian batin—sakinah, tawazun, dan tumakninah—sebagai indikator kesehatan mental yang utuh.

Dzikir, kesabaran, syukur, tawakal, dan qanaah merupakan kualitas-kualitas kejiwaan yang dalam literatur psikologi Islam masuk ke dalam proses tazkiyatun nafs, yakni penyucian dan penguatan jiwa.

Rof’ah juga menyinggung pemikiran Ibnu Sina, tokoh besar yang sejak abad ke-11 telah mengklasifikasikan struktur jiwa menjadi aspek rasional, emosional-keberanian, dan syahwat. Baginya, konsep-konsep klasik itu menunjukkan bahwa integrasi mental-fisik-emosional telah lama menjadi perhatian ilmuwan Muslim.

Dalam penjelasannya, Rof’ah menolak anggapan simplistis bahwa gangguan mental semata-mata disebabkan kurangnya iman. Ia menegaskan bahwa faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan sama pentingnya. Trauma, tekanan ekonomi, kekerasan, hingga pola hidup yang tidak sehat dapat menjadi faktor risiko yang berat.

“Karena itu, iman dan ibadah merupakan pelindung, bukan satu-satunya penyebab maupun penyelesaian,” ucap Ro’fah.

Paparan Rof’ah memperlihatkan upaya Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah membangun wacana yang ilmiah, holistik, dan berbasis literatur klasik maupun modern. Integrasi antara spiritualitas dan ilmu pengetahuan, menurutnya, adalah landasan penting untuk memahami manusia secara utuh.

Dengan pemahaman yang menyeluruh, umat dapat melihat kesehatan mental bukan sebagai stigma, tetapi sebagai bagian dari kesejahteraan hidup yang harus dijaga.

Tinggalkan Balasan