Jumat, 25 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Ibadah sebagai Sumber Resiliensi Mental di Tengah Krisis dan Bencana

Oleh admin • • 3 Menit Min
Ibadah sebagai Sumber Resiliensi Mental di Tengah Krisis dan Bencana

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA— Dalam Pengajian Tarjih Muhammadiyah pada Rabu (03/12), Rof’ah menyampaikan paparan mendalam mengenai hubungan antara ibadah dan kesehatan mental, terutama di tengah kondisi bencana yang sedang dialami masyarakat Sumatera.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah ini mengawali penjelasan dengan mengingatkan audiens pada QS. Yunus ayat 57, ayat yang menjelaskan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan penyembuh bagi manusia.

Momentum ini, kata Rof’ah, menjadi relevan mengingat masyarakat kembali dihadapkan pada bencana di Medan, Aceh, dan Padang. Ia menyebut bahwa berbagai penelitian menunjukkan bencana alam secara signifikan meningkatkan risiko kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD).

Banyak penyintas, jelasnya, mengalami kilas balik traumatis, penghindaran, dan kecemasan berkepanjangan. Bahkan orang yang tidak mengalami langsung, tetapi melihat tayangannya, dapat memunculkan kembali memori trauma lama. Ro’fah sendiri mengaku pernah merasakan hal itu ketika teringat tsunami Aceh 2004.

Dalam konteks seperti itu, Rof’ah menegaskan bahwa resiliensi menjadi kunci. Upaya mitigasi bencana modern tidak hanya menyiapkan infrastruktur atau kesiapsiagaan teknis, tetapi juga membangun ketahanan individu dan komunitas. Dan menurut Rof’ah, ibadah memegang peran penting dalam membangun ketahanan itu.

“Karena apapun kondisinya kalau kita punya ketahanan, punya tameng yang bagus tadi maka di situlah dan di sinilah ibadah itu menjadi salah satu pembangun tameng,” kata Ro’fah.

Ia menjelaskan bahwa berbagai studi psikologi dan psikiatri modern kini telah mengakui bahwa agama dan spiritualitas merupakan komponen penting manusia. Ilmu pengetahuan yang dulu alergi pada unsur religius kini mengadopsi model biopsikososial-spiritual—kerangka yang memasukkan spiritualitas sebagai salah satu dimensi kesejahteraan.

Dari sini Rof’ah memaparkan bagaimana ibadah dapat berfungsi ganda: sebagai pencegah sekaligus intervensi terapeutik. Ibadah, ujarnya, memberi makna dan struktur hidup. Rutinitas salat lima waktu menghadirkan rasa arah, mengurangi kekosongan, dan menciptakan ritme yang stabil—sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh individu yang sedang menghadapi situasi tidak pasti, seperti bencana.

Selain itu, berbagai penelitian menunjukkan aktivitas ibadah seperti salat, dzikir, dan doa mengaktifkan respons relaksasi fisiologis, menurunkan hormon stres, dan meningkatkan ketenangan psikologis. Rof’ah menghubungkannya dengan QS. ar-Ra’d ayat 28: “Ala bi dzikrillahi tathma’innul qulub.”

Tidak kalah pentingnya adalah aspek sosial dari ibadah berjamaah. Masjid dan majelis ilmu, menurut Rof’ah, menjadi support system alami. Ketika seseorang absen dari salat Subuh berjamaah, jamaah akan bertanya, menjenguk, dan mendampingi.

“Sekarang kan semua upaya membangun pertahanan bencana itu intinya adalah membangun resiliensi baik resiliensi individu maupun resiliensi komunitas ya,” kata Ro’fah.

Dukungan sosial seperti itu terbukti memperkuat resiliensi dan menurunkan risiko gangguan mental. Dalam situasi bencana, jaringan sosial semacam ini berperan besar membantu penyintas mengurangi beban psikologis.

Rof’ah juga menekankan nilai sabar, ridha, tawakal, dan syukur sebagai indikator kesehatan jiwa dalam tradisi Islam. Nilai-nilai ini bukan pasrah pasif, tetapi mekanisme psikologis yang memungkinkan seseorang menghadapi kesulitan tanpa kehilangan harapan. Optimisme (raja’) dan qanaah, menurutnya, menjadi lawan dari kecemasan dan hopelessness yang banyak dialami generasi muda dan penyintas bencana.

Di akhir sesi, ia menegaskan bahwa ibadah bukan sekadar ritual, tetapi mekanisme penyokong kesehatan mental yang relevan secara ilmiah. Dengan ibadah yang hidup dalam komunitas, umat memiliki tameng yang kuat untuk menghadapi kesulitan, termasuk bencana yang tengah menimpa saudara-saudara di Sumatera.

“Inilah peran spiritualitas yang harus terus kita rawat,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan