Kamis, 5 November 2026
ID EN AR
ID EN AR

Haedar Nashir: RS PKU Muhammadiyah Bagian dari Sejarah Kebangkitan Bangsa

Oleh ilham • • 2 Menit Min
Haedar Nashir: RS PKU Muhammadiyah Bagian dari Sejarah Kebangkitan Bangsa

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan bahwa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah kebangkitan bangsa Indonesia.

Penegasan tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam acara Pelantikan Direksi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan RS PKU Muhammadiyah Gamping yang digelar di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Rabu (17/12).

Dalam sambutannya, Haedar menyampaikan bahwa seluruh rumah sakit PKU Muhammadiyah di Indonesia merupakan satu mata rantai sejarah yang bermula dari berdirinya RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 1923. Kehadiran PKU, menurutnya, merupakan wujud nyata implementasi teologi Al-Ma’un yang sejak awal diarahkan untuk membela dan melayani masyarakat yang lemah.

Haedar menekankan bahwa sejarah perjuangan bangsa tidak bisa dipilah secara parsial atau sektoral. Pemahaman sejarah yang terpotong-potong, menurutnya, justru berpotensi melemahkan persatuan dan integrasi bangsa.

“Kalau sejarah dipilah-pilah dengan asabiah dan klaim sendiri-sendiri, Indonesia tidak akan tegak sebagai bangsa yang bersatu,” ujarnya.

Ia mencontohkan keberadaan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta sebagai rumah sakit pribumi pertama yang didirikan oleh kaum muslimin di Indonesia. Kehadiran PKU bukan hanya milik Muhammadiyah, tetapi menjadi bagian dari sejarah Yogyakarta dan Indonesia, berdampingan dengan institusi lain yang turut membangun bangsa.

Dalam konteks kebangsaan, Haedar menegaskan bahwa kiprah Muhammadiyah di bidang kesehatan, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat merupakan bagian dari mata rantai kebangkitan nasional.

Pada masa awal berdirinya RS PKU Muhammadiyah, kondisi bangsa Indonesia masih diliputi kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, dan kesehatan masyarakat yang sangat rapuh. Karena itu, kehadiran rumah sakit PKU memiliki arti strategis dalam membangun kesehatan bangsa.

“RS PKU iMuhammadiyah ini bukan hanya milik Muhammadiyah, tetapi milik masyarakat Yogyakarta dan Indonesia,” tegasnya.

Haedar juga menyinggung peran Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan kebudayaan, di mana Muhammadiyah menjadi salah satu elemen penting dalam sejarah kota ini, bersama Keraton Yogyakarta dan perguruan tinggi seperti Universitas Gadjah Mada. Ia mengingatkan bahwa sejak awal Muhammadiyah telah berkontribusi dalam pencerdasan kehidupan bangsa, layanan kesehatan, serta kerja-kerja sosial sebagai bagian dari tanggung jawab kebangsaan, bukan sekadar urusan negara semata.

Ia mencontohkan keterlibatan ‘Aisyiyah bersama berbagai organisasi perempuan lain dalam memprakarsai Kongres Perempuan Indonesia pertama tahun 1928 sebagai bukti bahwa kekuatan masyarakat sipil telah menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Lebih lanjut, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah selalu berkomitmen mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam menjalankan amal usaha, termasuk dalam pengembangan rumah sakit. Ia menyatakan bahwa Muhammadiyah telah kenyang dengan perjalanan sejarah dan akan terus bergerak dengan ketulusan, sistem yang baik, serta relasi yang konstruktif dengan berbagai pihak.

“Muhammadiyah insyaallah akan terus berkhidmat untuk umat dan bangsa, tanpa berpikir secara parsial,” katanya.

Pelantikan Direksi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan RS PKU Muhammadiyah Gamping ini menjadi momentum peneguhan kembali peran PKU Muhammadiyah sebagai institusi kesehatan yang tidak hanya berorientasi pelayanan medis, tetapi juga berakar kuat pada nilai sejarah, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan