Senin, 21 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Fatwa Palsu hingga Xenophobia: Tantangan Otoritas Keagamaan di Era Algoritma

Oleh admin 2 Menit Min
Fatwa Palsu hingga Xenophobia: Tantangan Otoritas Keagamaan di Era Algoritma

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Dewan Pakar Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Amin Abdullah menyebut terjadinya banjir informasi salah satunya menyebabkan terfragmentasinya otoritas keagamaan.

Umat saat ini ketika beristimbat hukum untuk masalah-masalah tertentu tidak lagi merujuk pada institusi-institusi agama formal. Mereka berhukum sesuai dengan opini yang mengiring mereka sesuai dengan algoritma. Bahkan Amin Abdullah menyebut, Bahtsul Masail dan Majelis Tarjih tak dipercaya lagi.

“Muncul fatwa-fatwa baru yang kadang-kadang palsu. Itu hati-hatinya banjir informasi. Maka suka tidak suka, dengan lahirnya IT baru ini adalah terfragmentasinya otoritas,” jelas Guru Besar Bidang Filsafat Islam ini pada (10/12) dalam Seminar Nasional di UIN Sunan Kalijaga.

Tantangan lain yang muncul dari era algoritma ini adalah komodifikasi agama. Prof. Amin berseloroh, komodifikasi agama ini bagian dari cita-cita anak muda – bagaimana mereka memproduksi fatwa ‘nyeleneh’ supaya mudah mendapatkan uang.

Menurutnya, saat dengan generasinya dulu memiliki pandangan atau orientasi yang berbeda terhadap uang. Dulu uang seakan dijauhi atau tidak dianggap utama. Tapi bagi generasi sekarang uang menjadi orientasi utama bahkan terkadang tunggal ketika mengerjakan segala hal – termasuk untuk urusan keagamaan.

“Dulu memang begitu, jangan cari uang. Tapi anak muda sekarang cepat cari uang. Yang penting cuan. Ini dia yang menjadi komodifikasi agama, apalagi kalau viral itu tanda dapat cuan,” katanya.

Kekhawatiran lain pada masa kecerdasan buatan dan algoritma, kata Prof. Amin adalah peluruhan literasi keagamaan generasi muda. Dia menemukan, generasi muda sudah enggan bertungkus lumus dengan buku yang tebal-tebal. Mereka mengira hanya dengan informasi dari media sosial sudah memberikan kedalaman.

Pada sisi lain, menurut Amin Abdullah yang paling mengkhawatirkan dari menyatunya kehidupan manusia dengan AI dan algoritma adalah menguatkan prasangka kepada kelompok lain atau xenophobia yang sampai pada tahap berlebihan dan menakutkan.

Namun demikian, berpegang pada Surat Ar Ra’d ayat 11, Prof. Amin Abdullah mengatakan, segala perubahan yang terjadi pada kehidupan umat manusia ini tergantung pada manusianya. Manusia memiliki peran besar dalam membawa perubahan besar ini ke arah optimis atau pesimis.

Tinggalkan Balasan