MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Wakil Ketua Biro Pengembangan Organisasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sukamta, menjadikan peristiwa Perang Muktah sebagai sumber hikmah utama dalam khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (05/12).
Melalui penjelasan sejarah yang runtut, ia mengajak jamaah meneladani keteguhan, strategi, dan kepemimpinan para sahabat dalam menghadapi ujian besar.
Dalam khutbahnya, Sukamta mengingatkan bahwa kaum muslimin saat ini tengah berada pada bulan Jumadil Akhir, bulan yang sarat pelajaran. Pada masa Rasulullah SAW, sekitar bulan-bulan ini terjadi Perang Muktah, sebuah peristiwa yang ia sebut bukan sekadar perang, tetapi “sekolah kehidupan” yang mengajarkan ketaatan, kepemimpinan, strategi, dan tawakal.
Ia menguraikan kembali konteks sejarah Muktah. Rasulullah SAW mengutus 3.000 pasukan menuju wilayah Muktah—kini sekitar 100 km selatan Amman, Yordania—setelah utusan beliau dibunuh secara zalim.
“Sejak dulu hingga sekarang, membunuh utusan adalah bentuk penghinaan,” ujar Sukamta. Misi pasukan muslim saat itu bukan untuk menaklukkan Romawi, tetapi menegakkan kehormatan Islam.
Pasukan kecil itu berhadapan dengan kekuatan musuh yang menurut berbagai catatan sejarah mencapai lebih dari 100.000 bahkan 200.000 personel. Rasulullah SAW menunjuk tiga panglima secara berurutan: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Ketiganya gugur satu per satu di medan laga.
Sukamta menggambarkan secara hidup pengorbanan Ja’far bin Abi Thalib yang tetap memegang panji setelah tangan kanannya putus, kemudian tangan kirinya menyusul. “Panji itu akhirnya ia peluk dengan sisa lengan, hingga ia syahid. Karena itu Rasul menyebutnya At-Thayyar, yang kelak dihadiahi dua sayap di surga,” ungkapnya.
Setelah tiga panglima gugur, panji kemudian diserahkan kepada Khalid bin Walid oleh sahabat senior Tsabit bin Akram. Khalid yang saat itu belum pernah ditunjuk menjadi panglima, menerima amanah tersebut dengan penuh kerendahan hati. Ia lalu menyusun strategi “pergantian formasi” yang membuat musuh seolah-olah menghadapi pasukan baru setiap hari. Debu tebal dari pasukan berkuda yang bergerak naik-turun bukit juga menimbulkan kesan bahwa bala bantuan terus berdatangan.
Strategi itu membuat pasukan Romawi gentar. Khalid kemudian memutuskan untuk mundur teratur menuju Madinah karena tujuan utama telah tercapai—menjaga kehormatan Islam. Pasukan Romawi tidak mengejar, sebab melihat pola gerak pasukan muslim yang mengecoh.
“Dari 3.000 pasukan, tidak lebih dari 15 yang gugur. Kaum muslimin menganggap misi itu berhasil, karena kehormatan terjaga. Inilah kemenangan hakiki,” jelas Sukamta.
Empat Hikmah Besar Muktah
Dari rangkaian kisah tersebut, Sukamta menegaskan empat pelajaran besar:
Pertama, ketaatan mutlak kepada Allah dan Rasul. Para panglima dan pasukan menunjukkan ketaatan penuh terhadap amanah, bahkan ketika risiko kematian begitu besar.
Kedua, tegar dalam ujian. Ujian besar seperti Muktah mengajarkan umat untuk tidak lemah dan tidak putus asa. Ia mengutip QS Ali ‘Imran: 139, “Janganlah kamu lemah dan jangan bersedih, kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman.”
Ketiga, estafet kepemimpinan. Panji perjuangan tidak boleh jatuh. “Orang boleh wafat, tapi institusi tidak boleh runtuh,” tegasnya. Ia mencontohkan bahwa pendiri UMY boleh meninggal, namun kejayaan kampus harus tetap dijaga generasi penerus.
Keempat, berani mengubah strategi demi kemaslahatan. Mundur bukan berarti kalah. Kadang langkah mundur adalah bagian dari siasat besar menuju kemenangan, sebagaimana dilakukan Khalid bin Walid.
Sukamta menekankan bahwa setiap orang memiliki “Muktah-Muktah kecil” dalam kehidupan sehari-hari: tekanan kerja, konflik keluarga, penurunan ekonomi, atau tantangan dakwah di era digital. Semuanya membutuhkan keteguhan iman dan sikap pantang menyerah.
Ia kembali mengingatkan sabda Nabi SAW: “Iḥriṣ ‘alā mā yanfa‘uk, wasta‘in billāh wa lā ta‘jaz”—bersungguh-sungguhlah pada hal yang bermanfaat, mintalah pertolongan Allah, dan jangan lemah. Menurutnya, pesan itu relevan bagi mahasiswa, pekerja, maupun pimpinan untuk fokus pada peningkatan kualitas diri, layanan, dan kontribusi bagi masyarakat.
Sukamta juga mendorong jamaah untuk melatih kader dan generasi muda agar panji kebaikan tidak terputus, serta berani menyesuaikan strategi hidup tanpa meninggalkan nilai iman.
Mengakhiri khutbah, Sukamta kembali menyeru jamaah untuk meningkatkan ketakwaan, menegakkan kebaikan secara maksimal, dan menjauhi kemaksiatan tanpa kompromi. Ia mengajak jamaah memohon agar Allah meneguhkan iman keluarga serta memberi kekuatan menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan semangat Perang Muktah.
“Muktah adalah ujian sekaligus kemenangan hakiki,” ujarnya menutup khutbah.
