Siapa yang tak mengenal sosok Ir Djuanda Kartawidjaja ? Pahlawan Nasional yang pada zamannya dijuluki “Menteri Segala Urusan” ini merupakan sosok yang memberikan kontribusi luar biasa bagi bangsa Indonesia, terutama dalam merumuskan konsep negara kepulauan yang kita kenal hingga hari ini.
Namanya harum abadi, tak hanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara Internasional Juanda di Surabaya, gagasannya menjadi alasan lahirnya peringatan Hari Nusantara setiap tanggal 13 Desember yang diumumkannya dalam Deklarasi Djuanda di tahun 1957.
Ir. R. Djoeanda Kartawidjaja yang kerap disapa Djuanda merupakan pria kelahiran tanah Sunda tepatnya di Tasikmalaya, jawa Barat, 14 Januari 1911. Ia dikenal memiliki darah bangsawan dan merupakan putra pertama dari pasangan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat. Ayah Djuanda diketahui merupakan seorang mantri guru di Hollandsch Inlandsche School (HIS).
Di masa mudanya, ia telah tamat di beberapa sekolah diantaranya: Hollandsch Inlandsche School (HIS) yang diselesaikannya pada tingkat sekolah dasar, lalu kemudian pindah ke sekolah khusus orang Eropa Europeesche Lagere School (ELS) dan tamat di tahun 1924, kemudian selanjutnya ayah Djuanda memasukkannya ke sekolah menengah khusus orang Eropa, Hogere Burger School (HBS) di Bandung dan kemudian lulus di tahun 1929.
Selama masa sekolahnya, Djuanda dikenal sebagai anak yang berprestasi dan bahkan prestasinya tidak menurun hingga ia lulus tepat pada tanggal 1 mei 1929 dengan predikat schitered geslaagd (lulus dengan baik sekali). Hingga kemudian membawanya masuk di Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hoge School), yang sekarang bernama Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan teknik sipil dengan beasiswa dan lulus pada 6 Mei 1993 di usianya yang ke 22 tahun.
Memilih Mengabdi untuk Muhammadiyah
Kiprahnya untuk nusantara, termasuk juga untuk Muhammadiyah patut untuk diteladani sekaligus mendapatkan apresiasi. Djuanda adalah seorang pegawai negeri dan abdi masyarakat yang meniti karirnya di berbagai jabatan pengabdian kepada negara dan bangsa.
Tepat setelah ia lulus dari THS (1933), ia memilih untuk mengabdikan dirinya di tengah masyarakat. Bagaimana tidak, setelah lulus dari THS ia ditawari menjadi asisten dosen di THS. Namun dengan kebesaran hatinya, ia lebih memilih untuk mendedikasikan dirinya untuk mengajar di SMA Muhammadiyah di Jakarta, Algemene Middelbare School (AMS) dan Kweekschool Muhammadiyah. Padahal gaji yang ditawarkan oleh THS jelas lebih tinggi pada saat itu yaitu sebanyak 275 Guiden.
Djuanda memilih Muhammadiyah bukanlah sebuah hal yang tiba-tiba, ayah Djuanda merupakan seorang kader, aktivis sekaligus pimpinan Muhammadiyah di Tasikmalaya. Djuanda sendiri pun pernah menyatakan bahwa ia merasa sangat tersanjung ketika Muhammadiyah mempercayainya untuk mendidik anak-anak bangsa, kader Muhammadiyah.
“Karena mengindahkan petunjuk orang tua, saya mengenal Muhammadiyah bukan sekedar kenal saja, tetapi saya malah dipercaya memasak kecerdasan putra-putri anak didik Muhammadiyah,” demikian pernyataan Djuanda yang dinyatakan ketika Muktamar Muhammadiyah pada tahun 1962 yang sekaligus bertepatan setengah abad persyarikatan yang didirikan KH. Ahmad Dahlan ini.
Deklarasi Djuanda, 13 Desember 1957
Setelah empat tahun mengajar di SMA Muhammadiyah Jakarta (1933-1937) ia kemudian mengabdi di Jawatan Irigasi – Provinsi Jawa Barat. Sebelum mengemban amanah di kementerian, tepatnya setelah masa proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, ia juga sempat mengemban posisi sebagai direktur utama Djawatan Kereta Api (DKA) Republik Indonesia pertama di tahun 1946 disusul dengan memimpin pengambilalihan Jawatan Pertambangan, Kotapraja, Keresidenan, dan obyek-obyek militer di gudang utara Bandung.
Djuanda merupakan sosok tekun, seorang abdi negara dan masyarakat yang bekerja melampaui batas panggilan tugasnya. Mampu menghadapi tantangan dan mencari solusi terbaik untuk kepentingan bangsa dan negara. Jasa terbesarnya bagi Indonesia adalah mengumumkan Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957 yang menyatakan bahwa semua pulau dan laut Nusantara adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Pasca Deklarasi Djuanda, Indonesia menganut prinsip negara kepulauan (Archipelagic State). Laut-laut antar pulau adalah wilayah resmi Republik Indonesia dan bukan merupakan kawasan bebas. Akibatnya, luas wilayah RI berganda 2,5 kali lipat dari yang sebelumnya 2.027.087 km2 menjadi 5.193.250 km2 dengan pengecualian Irian Jaya yang belum diakui secara internasional saat itu. Jika dihitung 196 garis batas lurus (straight baselines) dari titik pulau terluar (kecuali irian jaya, terciptalah garis batas maya mengelilingi wilayah RI sepanjang 8.069,8 mil laut.
Akibat kiprahnya itu, Djuanda, oleh kalangan pers pada saat itu dijuluki sebagai “Menteri Marathon”. Bagaimana tidak, sejak awal kemerdekaan ia telah menjabat sebagai Menteri Muda Perhubungan, berlanjut terus sebagai Menteri hingga pada titik Perdana Menteri, dilanjutkan sebagai Menteri Pertahanan (1957-1959), lalu menjadi Menteri pertama di masa Demokrasi Terpimpin (1959-1963).
Sampai pada akhir hayatnya di tahun 1963, ia telah tercatat menjabat sebagai menteri muda (1 kali), menteri (14 kali), dan perdana menteri (1 kali). Ia dikenal sebagai tokoh yang luwes, tenang dan bersahaja sehingga berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.244/1963, Ir. H. Djuanda Kartawidjaja diangkat sebagai Tokoh Nasional / Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
Penulis: Bhisma
Sumber:
Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (2024). 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi. Yogyakarta: Gramasurya.
Suara Aisyiyah. (2023). Djuanda, Tokoh Muhammadiyah yang Nyaris Terlupakan. Yogyakarta: suaraaisyiyah.id.






