Jumat, 25 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Bahaya Krisis Otoritas Ilmu dan Dominasi AI terhadap Cara Berpikir Umat

Oleh ilham 3 Menit Min
Bahaya Krisis Otoritas Ilmu dan Dominasi AI terhadap Cara Berpikir Umat

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — CEO Sapience Institute, Fahad Tasleem, mengingatkan umat Islam agar lebih waspada terhadap krisis otoritas ilmu dan perubahan cara berpikir manusia di era digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Hal itu disampaikannya dalam Public Lecture yang diselenggarakan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jumat (20/12).

Mengawali pemaparannya, Fahad merujuk pada sebuah hadis Nabi Muhammad Saw tentang tanda-tanda akhir zaman. Salah satu tanda yang ditekankan Nabi, menurut Fahad, adalah diangkatnya ilmu dan merebaknya fitnah (ujian dan kekacauan) secara nyata di tengah masyarakat.

“Rasulullah menyebutkan bahwa hari kiamat tidak akan terjadi sampai ilmu diangkat dan fitnah tampak jelas di hadapan manusia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, diangkatnya ilmu bukan berarti hilangnya informasi, tetapi meninggalnya para ulama dan ahli ilmu, sementara masyarakat justru mencari rujukan agama dari figur-figur populer yang belum tentu memiliki otoritas keilmuan. Fenomena ini, menurut Fahad, sangat kentara di era media sosial dan YouTube.

“Banyak orang belajar Islam bukan lagi dari guru, pesantren, atau universitas, tapi dari video pendek. Yang dinilai bukan sanad keilmuan, tapi jumlah pengikut, likes, dan views,” katanya.

AI dan Ilusi Otoritas Baru

Fahad kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan, khususnya penggunaan ChatGPT, yang menurutnya kini telah menjadi salah satu sumber rujukan berpikir masyarakat. Ia menyebut Indonesia termasuk lima besar negara dengan tingkat penggunaan ChatGPT tertinggi di dunia.

Namun, Fahad mengingatkan bahwa AI membawa persoalan yang jauh lebih serius dibanding media sosial. Jika media sosial berfokus pada perebutan atensi manusia, AI justru mulai mengambil alih fungsi berpikir manusia.

“Artificial intelligence bukan hanya membuat kita terus men-scroll, tapi mulai berpikir untuk kita. Dan ketika orang lain berpikir untuk kita, maka kemampuan berpikir kita sendiri akan menurun,” tegasnya.

Ia mencontohkan kasus di mana AI pernah memberikan saran berbahaya kepada pengguna yang sedang mengalami depresi. Persoalan menjadi semakin rumit ketika keputusan etis AI tunduk pada regulasi negara atau nilai pembuatnya.

“Siapa yang menentukan apa yang benar dan salah? Pendiri ChatGPT bukan seorang Muslim. Ia tidak tunduk pada nilai-nilai Islam. Tapi tanpa sadar, kita mulai menerima pandangan dunianya,” ujar Fahad.

Menurutnya, bahaya AI tidak datang secara frontal, tetapi bertahap, sebagaimana cara kerja godaan setan: perlahan mengaburkan batas antara yang nyata dan yang artifisial, antara nilai Islam dan nilai asing.

Islam sebagai Worldview

Dalam bagian inti ceramahnya, Fahad menekankan pentingnya memahami Islam bukan sekadar sebagai “agama” dalam pengertian Barat, melainkan sebagai worldview (pandangan hidup menyeluruh).

Ia menjelaskan bahwa istilah “religion” lahir dari sejarah Eropa pasca konflik gereja dan negara, yang kemudian melahirkan sekularisme. Agama dipandang sebagai urusan privat dan dianggap tidak rasional, sementara urusan publik dilepaskan dari nilai ketuhanan.

“Islam tidak pernah masuk dalam kotak itu. Islam berbicara tentang akidah, ibadah, akhlak, politik, ekonomi, hingga masyarakat. Islam adalah cara melihat realitas,” tegasnya.

Karena itu, Fahad menilai penggunaan istilah-istilah seperti “Islamic feminism” atau “Islamic socialism” sering kali justru menunjukkan ketundukan pada kerangka pikir Barat, bukan pada kerangka Islam itu sendiri.

Untuk menghadapi arus ideologi dan teknologi global, Fahad menawarkan peta sederhana untuk memahami worldview, yang terdiri dari empat pertanyaan mendasar:

  1. Apa yang benar-benar ada? (Apakah Tuhan ada?)
  2. Bagaimana manusia memperoleh pengetahuan? (Wahyu atau semata pengalaman empiris?)
  3. Siapakah manusia? (Makhluk bermakna atau sekadar kumpulan atom?)
  4. Apa tujuan hidup dan alam semesta?

Menurutnya, jawaban atas empat pertanyaan ini akan menentukan konsep etika, termasuk apa yang dianggap halal dan haram.

“Jika jawaban kita berbeda, maka nilai moral kita juga pasti berbeda. Itulah sebabnya konsep hak, kebebasan, dan keadilan dalam Islam tidak bisa disamakan dengan konsep Barat,” jelasnya.

Ia mencontohkan isu “hak perempuan”. Dalam Islam, hak tidak berangkat dari kepemilikan diri (“my body, my choice”), melainkan dari kepemilikan Allah atas manusia. Karena itu, Islam berbicara bukan hanya tentang hak perempuan atau laki-laki, tetapi juga hak Allah.

Menutup ceramahnya, Fahad menegaskan bahwa umat Islam tidak dituntut menolak teknologi, termasuk AI. Namun, umat harus memiliki kesadaran pandangan hidup Islam agar tidak terseret arus nilai asing.

“Gunakan teknologi, tapi pahami lensa yang dipakainya. Jangan biarkan worldview orang lain menggantikan cara Islam melihat dunia,” pungkasnya.

Ceramah ini menjadi pelengkap penting dari diskusi sebelumnya yang disampaikan pendiri Sapience Institute, Hamza Andreas Tzortzis, dan menegaskan urgensi jihad intelektual dalam menjaga akidah dan nalar umat di tengah tantangan zaman digital.

Tinggalkan Balasan