MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Anggota Lembaga Pengembangan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Arif Rizqi, mengajak untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber ketenangan hati dan solusi spiritual dalam menghadapi tantangan hidup.
Hal itu ia sampaikan dalam pengajian di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (20/11).
Di hadapan para mahasiswa dan jamaah, Arif membuka kajian dengan pertanyaan reflektif: sudahkah hari ini berinteraksi dengan Al-Qur’an? Ia kemudian mengajak peserta menuliskan satu ayat yang mereka baca atau hafal pada hari itu, lalu mencari makna serta perasaan yang muncul setelah membacanya.
Beberapa peserta berbagi pengalaman spiritualnya. Seorang mahasiswa KPI 2024, menceritakan tadaburnya terhadap Surah Al-Humazah. Awalnya ia menganggap umpatan sebagai hal sepele dan bahan candaan. Namun setelah mempelajari maknanya, ia tersadar bahwa umpatan memiliki konsekuensi berat dalam pandangan Al-Qur’an.
“Setelah memahami ayatnya, ternyata selama ini saya salah besar. Ternyata umpatan itu tidak sederhana. Ada perasaan waspada dan lebih berhati-hati,” ujarnya.
Sementara itu, seorang peserta perempuan membagikan refleksi dari Surah Al-‘Ankabut ayat 2 tentang ujian keimanan. Ia mengaku sedang menghadapi banyak tekanan saat memperjuangkan mimpi-mimpinya.
“Kadang saya merasa mimpi saya terlalu besar. Tapi setelah memahami ayat ini, saya lebih menerima bahwa ujian memang bagian dari jalan orang beriman,” kata Iza.
Al-Qur’an sebagai Sumber Ketenangan
Arif menegaskan bahwa banyaknya masalah seringkali membuat seseorang lupa bahwa Al-Qur’an adalah kunci penyelesaiannya. Ia menayangkan sebuah video pendek berisi pesan tentang kerugian besar bagi orang yang tidak membaca Al-Qur’an meski memiliki banyak waktu untuk hal lain.
“Sering kali kita sibuk dengan masalahnya, tetapi lupa dengan kunci pembukanya,” kata Arif.
Ia menjelaskan bahwa kekacauan hati dapat berwujud kondisi stres, yang tampak melalui perubahan pola makan dan tidur, kecemasan berlebih, pikiran negatif, hingga hilangnya minat beraktivitas. Dalam durasi panjang, kondisi ini dapat mengganggu kesehatan fisik maupun mental.
Dalam perspektif Islam, lanjut Arif, kondisi hati manusia dibedakan menjadi qalbun salim (hati yang sehat), qalbun maridh (hati yang sakit), dan qalbun mayyit (hati yang mati). Sementara dalam psikologi, kesehatan mental ditandai oleh keseimbangan pikiran, sikap, dan tindakan. Meski demikian, tidak semua standar psikologi otomatis selaras dengan Islam.
“Rasa percaya diri secara psikologis itu baik. Tetapi dalam Islam, kepercayaan diri yang berdiri di atas keegoan justru menjerumuskan pada kesombongan. Maka standar kita tetap Al-Qur’an dan sunah,” jelasnya.
Arif juga mengutip beberapa penelitian yang menunjukkan efektivitas intervensi berbasis Al-Qur’an: Refleksi Surah Al-Fatihah pada penyintas HIV membantu menurunkan tingkat depresi; Murottal Surah Ar-Rahman terbukti menurunkan kecemasan pasien sebelum operasi katarak; Murottal Al-Qur’an menurunkan tingkat insomnia pada mahasiswa.
Ia menekankan bahwa membaca Al-Qur’an memberikan stimulasi yang lebih lengkap—melibatkan penglihatan, pendengaran, dan artikulasi—sehingga memberikan efek ketenangan yang lebih kuat daripada sekadar mendengarkan.
Mengutip Surah Fusilat ayat 44, Arif menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang beriman.
“Sebagaimana peta yang dipercaya akan membawa kita sampai ke tujuan, Al-Qur’an pun akan menuntun hidup kita. Tapi bila tidak dipercaya dan tidak dijadikan pedoman, seseorang akan tersesat dan merasa jauh dari solusi,” ujarnya.
Kajian kemudian ditutup dengan ajakan untuk menjadikan interaksi dengan Al-Qur’an sebagai rutinitas yang membangun ketenangan, membersihkan hati, serta menguatkan iman.
