MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Pasar Kreatif Payungi yang terletak di Kota Metro, Lampung, telah menjadi wadah sekaligus model pemberdayaan masyarakat yang inovatif di Indonesia. Di prakarsai langsung oleh Dharma Setyawan yang merupakan seorang pegiat komunitas kreatif, Payungi telah berkembang dari sebuah kampung menjadi gerakan ekonomi kreatif yang mampu menggerakan masyarakatnya dan menghasilkan dampak yang luas.
Hadir sebagai pemateri dalam agenda Pengajian Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dharma mengungkap bahwa Payungi bermula dari sebuah ide sederhana, menghidupkan kembali ruang kampung melalui warna, kreativitas, dan gotong royong para warga dan pemuda setempat dengan mendirikan sebuah pasar kreatif yang membawa dampak bagi ruang sosial, budaya, dan pendidikan komunitas.
“Inilah yang kita harapkan bahwa payungi bukan sekedar mencari uang tapi merupakan konsep pendidikan berbasis komunitas bahwa disitu kita menghadirkan sekolah desa, women and environment studies, sekolah seni payungi, disabilitas corner, dan ini perlahan-lahan mulai tumbuh dan tercapai,” jelas Dharma dalam agenda yang digelar Jumat Malam, (15/11).
Hal ini juga tak terlepas dari cara Dharma bersama rekannya memimpin dan menggerakkan warga untuk menumbuhkan sektor perekonomian warga dan membawa dampak bagi sesama. Ia berharap, hal ini akan menjadi motivasi bagi semua masyarakat bahwasannya suatu gerakan bukan hanya didasarkan pada materi berlaka, namun juga bisa akan menambah dampaknya pada kesejahteraan secara mental dan spiritual.
“Penggelaran pertama kita dapat sekitar 16 jt an. Dari situ kita sadar bahwa ini merupakan awal mula kita mendorong pendidikan transformatif. Maka, pasar hanyalah pendekaran secara prakmatis, dan kami ingin menaikkan kapasitas masyarakat kita bukan hanya untuk kesejahteraan material, tapi juga kesejahteraan mental dan spiritual,” ujarnya.
Kepemimpinan di Tangan Gen Z Mampu Hasilkan Dampak Nyata
Selaras dengan sikap kepemimpinan itu, turut hadir dalam sesi materi yaitu Syahdan Arya atau yang kerap disapa “Ketua RT Gen-Z”. Di usianya yang masih muda (20 tahun), Syahdan mampu menjadi inspirasi sekaligus dapat mematahkan stigma akan penilaian masyarakat yang meragukan potensi anak muda.
“Ada yang bilang Gen Z itu males gerak, gak bisa kerja, gak bisa memimpin dan membangun,” ucapnya.
Berdasarkan hal itu, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) itu berhasil memberikan bukti yang nyata dan memimpin masyarakatnya yang berada di wilayah RT 07, RW 08, Kelurahan Rawa Badak Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara.
“Dari pengalaman sebagai Ketua RT ini, saya jadi belajar bahwa pemimpin itu tidak hanya sekadar memimpin, namun juga mendengar, mengayomi, dan melayani,” jelas Syahdan.
Maka, selaras dengan tema pengajian “Mewujudkan Kepahlawanan dalam Era Kekinian” sekaligus juga dalam rangka memperingati hari pahlawan nasional yang jatuh pada 11 november lalu, Syahdan memberikan pesan mendalam bahwa seorang pahlawan bukan hanya mereka yang mampu mengangkat senjata, tapi juga mereka yang mampu membawa manfaat yang nyata.
Melalui kisah Dharma dan Syahdan, pengajian ini menjadi panggung refleksi bahwa kepahlawanan dapat lahir dari mana saja: dari kampung yang bangkit melalui gerakan kreatif, maupun dari pemuda yang memimpin lingkungannya dengan ketulusan dan pelayanan. (Bhisma)
