Sabtu, 26 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Nabi Muhammad Saw Bukan Seorang Penyair! | Serial Sirah Nabawi 25

Oleh admin • • 4 Menit Min
Nabi Muhammad Saw Bukan Seorang Penyair! | Serial Sirah Nabawi 25

Di Arabia abad ke-7, syair adalah kuasa (poetry is power). Para penyair yang paling fasih adalah tokoh-tokoh paling berpengaruh dan dihormati. Seorang penyair ulung tidak berbeda dengan seorang CEO konglomerat atau jenderal yang ditakuti hari ini. Hal ini karena seorang penyair bisa memicu perang dengan satu bait hinaan (hijā’) atau mengakhiri dendam dengan satu baris sanjungan (madīḥ).

Dengan kata lain, reputasi sebuah suku sering kali bergantung pada kehebatan penyairnya. Jika kamu hidup pada masa itu, kamu mungkin tidur lebih tenang karena ada seseorang yang mampu membela kehormatanmu dengan satu rangkaian kata. Jika musuh menista keluargamu, kamu akan berharap penyairmu menjawab dengan bait yang lebih tajam. Jika tidak ada yang bisa bersyair berarti tidak ada masa depan yang cerah bagimu.

Situasi yang mirip terjadi di Tiongkok Kekaisaran pada masa Dinasti Tang (abad ke-7 hingga ke-10 M), yang disebut-sebut sebagai puncak keemasan puisi klasik. Meskipun penyair tidak secara langsung memimpin militer, penguasaan mereka atas puisi dan kaligrafi adalah syarat utama untuk menduduki posisi kekuasaan tertinggi dalam birokrasi. Siapa pun yang menguasai kata-kata dalam bentuk puitis berarti menguasai sistem politik.

Seorang penyair seperti Bai Juyi (772–846 M), misalnya, mencapai posisi gubernur di kota-kota penting berkat kemahirannya dalam sastra, dan menggunakan puisi epiknya, ‘Song of Lasting Pain’, untuk membentuk ulang narasi sejarah dan mempengaruhi ingatan kolektif tentang suatu tragedi nasional.

Contoh lain adalah masyarakat Aztek di Mesoamerika sebelum penaklukan Spanyol (abad ke-14 hingga ke-16 M). Di sana, para pujangga dan pencerita (tlamatinime) berperan sebagai filsuf, guru, dan penjaga memori kolektif. Teks-teks puitis mereka adalah alat untuk mempertahankan tatanan sosial, legitimasi penguasa, dan penghubung pengetahuan suci. Peran mereka memberikan kekuasaan yang melampaui kekuatan fisik.

Di tengah supremasi syair ini, Nabi Muhammad tampil membawa sebuah teks yang secara kategoris menolak diklasifikasikan sebagai syair (QS Yasin: 69). Gaya puitis Arab mengenal ritme yang mapan, pola yang terukur, dan hierarki estetika yang dihormati. Namun ketika Al-Qur’an dibacakan, kehadirannya seakan berasal dari luar semua tradisi tersebut. Orang Arab paling kritis pun menangkap keanehan itu.

Kisah yang sering dikutip untuk menggambarkan gejolak intelektual tersebut adalah pertemuan terkenal al-Walid ibn al-Mughirah, ayah dari Khalid bin Walid, dengan bacaan Nabi Muhammad. Al-Walid dikenal penyair terhebat Mekkah menjadi saksi kunci atas fenomena ini. Setelah mendengar lantunan Al-Qur’an, sang maestro bahasa mengakui dengan jujur:

“Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian yang lebih berpengetahuan tentang syair dariku, bukan [metrum] rajaz, bukan [bentuk] qaṣīdah, atau syair jin. Demi Allah, apa yang diucapkannya tidak menyerupai semua itu.”

Pengakuan ini menyebar di kalangan masyarakat Mekah. Kepanikan pun melanda ketika penyair terbesar mereka telah mengakui kekalahan di hadapan teks yang bahkan tidak masuk dalam kategori syair. Konfrontasi antara wahyu dan tradisi syair ini kemudian mencapai puncaknya dalam percakapan legendaris antara Abu Jahal dan al-Walid.

Di bawah tekanan untuk memberi label yang merendahkan, Abu Jahl mengusulkan agar Nabi Muhammad dicitrakan sebagai pribadi buruk dimulai dari tuduhan orang gila, peramal, penyihir. Namun Al-Walid membantah itu semua karena tidak cocok dengan kepribadian Sang Nabi. Terdesak, Abu Jahal berkata, “Sebut saja dia penyair.” Namun dengan integritas linguistiknya, al-Walid menjawab, “Demi Allah, aku adalah penyair terbaik di antara kalian… dan aku tegaskan, ini bukan puisi.”

Fakta sejarah menunjukkan konsistensi posisi Nabi Muhammad. Sebelum era kenabian, Nabi Saw dikenal sebagai orang terpercaya. Tidak ada satu pun penduduk Mekkah ketika itu yang memandangnya sebagai ahli sastra. Bahkan sampai meninggal, seorang ulama mencatat: “Nabi tidak pernah memberikan satu bait syair penuh (paling banyak, hanya satu setengah baris)”.

Kenyataan ini semakin mengukuhkan pertanyaan bagaimana mungkin seorang yang bukan penyair mampu menghasilkan karya sastra terindah yang mengalahkan seluruh penyair terbaik di seantero Arabia?

Fakta bahwa Nabi Muhammad tidak memiliki latar belakang kepenyairan justru mempertegas mukjizat Al-Qur’an ini. Hal ini seperti seseorang yang tak mengenal notasi musik secara spontan menciptakan simfoni Mozart. Kemustahilan inilah yang membuktikan adanya sumber lain di balik kemunculan Al-Qur’an. Dan semua ini baru dilihat dari sisi gaya bahasa—belum dari kedalaman pesan, koherensi isinya, maupun pandangan dunianya.

Disebut gila bukan, disebut pendusta juga bukan, disebut penyihir tidak cocok, dan disebut penyair pun terbantah. Karena terdesak oleh kekuatan hujah Al-Qur’an, kaum Quraisy akhirnya meminta mukjizat-mukjizat fisik.

Hal ini berulang dalam banyak kejadian, salah satunya terekam dalam QS al-Isrā’ ayat 90-93. Mereka berkata, “Kami tidak akan sekali-kali beriman kepadamu hingga engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami; atau engkau memiliki kebun kurma dan anggur lalu mengalirkan sungai-sungai di dalamnya; atau engkau menjatuhkan langit berkeping-keping atas kami sebagaimana ancamanmu; atau engkau datangkan Allah dan para malaikat di hadapan kami; atau engkau memiliki rumah dari emas; atau engkau naik ke langit—dan kami pun tidak akan percaya kecuali engkau menurunkan kepada kami sebuah kitab yang dapat kami baca.” Allah memerintahkan Nabi menjawab, “Maha Suci Tuhanku! Bukankah aku hanyalah seorang rasul yang diutus?”

Alasan mengapa Allah tidak menurunkan mukjizat-mukjizat fisik yang kaum Quraisy minta sederhana: karena mukjizat terbesar telah diturunkan, yaitu Al-Qur’an. Kitab suci ini jadi pedoman hidup ideal umat manusia dari generasi ke generasi hingga Akhir Zaman. Lagipula, jelas bahwa permintaan mereka bukanlah lahir dari ketulusan, melainkan dari kesombongan.

Allah berfirman dalam QS Al An’am ayat 111, “Sekiranya Kami menurunkan para malaikat kepada mereka, membuat orang-orang mati berbicara kepada mereka, dan menghimpunkan segala tanda di hadapan mereka, tetap saja mereka tidak akan beriman kecuali jika Allah menghendaki.”

Bangsa-bangsa terdahulu, seperti kaum ‘Ad dan Tsamud, pun telah menyaksikan mukjizat-mukjizat besar, tetapi tetap memilih untuk mendustakan kebenaran. Karena itu Allah berfirman dalam QS Al Isra’ ayat 59, “Tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan tanda-tanda (mukjizat) melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh umat-umat sebelum mereka.”

Referensi:

Al-Hakim al-Naysaburi, al-Mustadrak ʿalā al-Ṣaḥīḥayn, Kairo: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 1422/2002, vol. 2, hlm. 550-551.

Fay Beauchamp, “Tang Dynasty Revolution and Poetry: Bai Juyi’s ‘Construction’ of Yang Guifei,” Education About Asia 14, no. 1 (Spring 2009): 34-41.

Manuel Aguilar-Moreno, Handbook to Life in the Aztec World, New York: Facts On File, 2006.

Yasir Qadhi, The Sīrah of the Prophet: A Contemporary and Original Analysis, Leicestershire: The Islamic Foundation, 2023.

Tinggalkan Balasan