Jumat, 25 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Muhammadiyah Tegaskan Tidak Berafiliasi Mazhab Bukan Berarti Menolak Warisan Ulama

Oleh admin • • 3 Menit Min
Muhammadiyah Tegaskan Tidak Berafiliasi Mazhab Bukan Berarti Menolak Warisan Ulama

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Dalam Pengajian Tarjih pada Rabu malam (26/11), Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Ghoffar Ismail, memaparkan prinsip “tidak berafiliasi mazhab” yang selama ini menjadi ciri khas gerakan Muhammadiyah.

“Prinsip tidak berafiliasi mazhab adalah persoalan yang sangat penting dan urgen, tidak hanya bagi warga Muhammadiyah—terutama para ulama dan ahli tarjih di semua tingkatan—tetapi juga perlu dipahami oleh seluruh kaum muslimin,” tegas Ghoffar Ismail.

Beliau menegaskan bahwa sikap Muhammadiyah yang tidak mengikatkan diri pada satu mazhab tertentu sama sekali bukan berarti merendahkan atau mengabaikan khazanah fikih empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali).

Sebaliknya, justru menunjukkan penghargaan yang tinggi dengan menempatkan mazhab pada posisi yang proporsional: sebagai warisan berharga (turas) yang tetap dijadikan referensi, tetapi tidak dijadikan otoritas tertinggi menggantikan Al-Qur’an dan Sunah.

Menurut Ghoffar, empat Imam Mazhab sendiri melarang fanatisme buta. Ia mengutip pernyataan tegas para imam mazhab yang justru melarang pengikutnya untuk bertaklid buta:

Imam Abu Hanifah, misalnya pernah mengatakan, “Jika ada hadis yang sahih, maka itulah mazhabku)”. Dengan nada yang hampir mirip, Imam Malik menegaskan, “Aku hanyalah manusia, bisa salah dan bisa benar… ambillah pendapatku yang sesuai Kitab dan Sunah, tinggalkan yang tidak sesuai”.

Sementara itu, Imam Syafi’I menjelaskan bahwa, “Jika hadis itu sahih, maka itulah mazhabku… tinggalkan perkataanku”. Hal senada juga diungkapkan Imam Ahmad bin Hanbal yang menyatakan, “Jangan kalian menaklidiku, jangan pula menaklidi Malik dan Syafi’i… ambillah dari sumber tempat kami mengambil, yaitu Al-Qur’an dan Sunah)”.

“Para imam mazhab sendiri tidak pernah mendirikan mazhab. Mereka hanya mengajar dan berijtihad. Yang menciptakan istilah ‘mazhab’ adalah murid-murid dan generasi setelahnya,” jelas Ghoffar.

Mengapa Muhammadiyah Memilih Tidak Berafiliasi?

Menurut Ghoffar Ismail, ada beberapa alasan mendasar:

Pertama, Muhammadiyah adalah gerakan tajdid (pembaruan). Ghoffar menerangkan bahwa Muhammadiyah lahir sebagai gerakan tajdid yang bertujuan memurnikan (tashhih) dan menyegarkan (tajdid) ajaran Islam. Mengikatkan diri pada satu mazhab akan membatasi ruang pembaruan.

Kedua, Muhammadiyah senantiasa menjaga jarak yang sama terhadap semua mazhab. Hal tersebut dilakukan agar tidak terjebak pada tasdiq (pembenaran buta) terhadap satu aliran saja, melainkan melakukan tashhih secara menyeluruh.

Ketiga, bagi Muhammadiyah posisi Al-Qur’an dan Sunah itu sebagai otoritas tertinggi. Menurut Ghoffar, pandangan-pandangan mazhab tetap dihargai sebagai sumber para-tekstual dan akliah (kias, ijma’, istihsan, maqasid, urf, dll), tetapi tidak pernah ditempatkan setara dengan wahyu.

Keempat, Muhammadiyah ingin menghindari stagnasi pemikiran. Jika taklid pada satu mazhab menjadi wajib, pintu ijtihad akan tertutup, terutama dalam masalah muamalah dan isu-isu kontemporer.

Ghoffar Ismail menjelaskan prosedur ijtihad kolektif Majelis Tarjih. Setiap masalah diawali dengan penelusuran dalil Al-Qur’an dan Sunah secara mendalam. Pendapat semua mazhab dan ulama klasik hingga kontemporer pun dijejerkan sebagai bahan pertimbangan epistemologis.

Selain melihat pandangan para ulama mazhab, kondisi kekinian mulai dari realitas sosial, ilmu pengetahuan, kesehatan, ekonomi, dll juga turut dimasukkan dalam analisis. Agar ijtihadnya komprehensif, dilakukan musyawarah intensif hingga tercapai ijma’ atau paling tidak tawakuf (penundaan jika belum tuntas).

Setelah melalui proses berjenjang seperti ini, hasilnya berupa fatwa atau putusan yang bersifat terbuka untuk direvisi jika muncul dalil atau kondisi baru.

“Warga Muhammadiyah yang mengikuti putusan Tarjih bukan bertaklid, melainkan ittiba’ institusional. Mereka tetap memiliki hak pribadi untuk berbeda pendapat, tetapi secara organisatoris wajib mengikuti keputusan bersama,” tegasnya.

Beliau juga menjawab pertanyaan umum mengapa fikih ibadah Muhammadiyah sering mirip mazhab Hanbali. “Bukan karena afiliasi, tetapi karena kesamaan dalam mengutamakan dalil hadis sahih dan lebih berhati-hati menggunakan ra’yu dalam ibadah. Itu hanya titik temu, bukan ikatan.”

Ghoffar menegaskan bahwa tidak berafiliasi mazhab bukan berarti anti-mazhab. “Kita sangat mencintai dan menghormati para imam mazhab serta warisan fikih mereka. Kitab-kitab klasik seperti Bulughul Maram, Riyadhus Shalihin, Bidayatul Mujtahid, Al-Muwafaqat, hingga karya Imam Nawawi tetap dikaji di sekolah-sekolah dan pesantren Muhammadiyah.”

“Yang kita lakukan hanyalah menempatkan mazhab pada posisi yang benar: sebagai khazanah berharga yang membantu kita memahami Al-Qur’an dan Sunah, bukan sebagai pengganti keduanya,” ucap Ghoffar.

Tinggalkan Balasan