Sabtu, 26 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Muhammadiyah Satukan Lintas Iman untuk Keadilan Iklim

Oleh admin • • 2 Menit Min
Muhammadiyah Satukan Lintas Iman untuk Keadilan Iklim

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Fenomena eksploitasi ekosistem Karst Pracimantoro menjadi salah satu perhatian mata persyarikatan Muhammadiyah. Melalui Program SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice Through Ecofeminism), Eco Bhinneka Muhammadiyah Regional Yogyakarta berhasil menyelenggarakan diseminasi hasil kajian advokasi dan diskusi publik mengenai kasus tersebut. 

Berlangsung di Aula Lantai 6 Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta pada Rabu (26/11). Diskusi publik dengan tajuk “Ecofeminisme dalam Perspektif Komunitas dan Keimanan: Pengalaman Riset dari Kawasan Karst Pracimantoro” ini mengajak perwakilan berbagai organisasi lintas iman, pegiat isu ecofeminisme, difabel, lingkungan, dan media untuk saling berbagi pemikiran dan mendorong kepemimpinan pemuda lintas iman dalam membangun keadilan iklim melalui perspektif ecofeminisme. 

Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni memberikan apresiasi positifnya akan penyelenggaraan diskusi ini. Ia juga berharap gerakan ini dapat menjadi tonggak perubahan perspektif publik dalam memandang fenomena kerusakan alam. 

“Sebagai orang beriman, perlu melawan segala bentuk fasad—kerusakan yang merusak kehidupan,” katanya.

Diskusi ini menghadirkan sejumlah pembicara kunci yang berpengalaman. Salah satunya Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan. Ia menilai perspektif ecofeminisme dapat menjadi salah satu pendekatan yang kuat dalam mencapai keadilan iklim, jika digunakan dengan tepat.

“Ecofeminisme adalah alat untuk mencapai keadilan iklim, ruang untuk membedah pengalaman perempuan,” ungkapnya. 

Sejatinya para perempuan yang tinggal di ekosistem Karst Pracimantoro memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan pangan keluarganya, melalui sumber pangan lokal seperti umbi-umbian dan serangga sebagai sumber proteinnya. Mereka memiliki pemahaman dan pengetahuan budaya lokal dan sosial yang luas dalam mengelola lahan, manajemen pertanian, dan pengaturan air. 

“Kami ingin mengamplifikasi bagaimana masyarakat Pracimantoro memiliki pengetahuan yang selaras dengan alam. Mereka menjunjung diversitas, mengambil secukupnya dari alam, dan memastikan ada yang dikembalikan,” ujar Yayum Kumai selaku Focal Point Eco Bhinneka Muhammadiyah. 

Namun sayangnya pengetahuan ekologis ini belum dikenal luas di masyarakat. Melalui diskusi publik ini, diharapkan mampu menjadi sarana untuk mendapatkan rekognisi dari publik dan para pemangku kebijakan.

Hal ini sejalan dengan pandangan Dewi Candraningrum, peneliti gender dan aktivisme seni dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Ia menekankan bahwa rekognisi tradisi lisan menjadi hal penting. Bukan hanya sebagai folklor namun sebagai sains. 

“Kita bisa memulihkan otoritas pengetahuan lokal dan melakukan dekolonialisasi pengetahuan,” ujarnya.

Diskusi ini turut menghadirkan Romo Suyadi, yang berbicara melalui perspektif lintas imannya. Merujuk pada seruan Paus Fransiskus dalam Laudato Si, Ia secara tegas mengkritik perilaku-perilaku konsumerisme dan eksploitasi terhadap lingkungan. 

“Anak muda perlu memberi solusi alternatif, salah satunya lewat ecosociopreneurship,” harapnya.

Agenda kajian ini menjadi momentum penting untuk saling merangkul, menumbuhkan kesadaran, dan tanggung jawab bersama. Bahwasanya keberlanjutan tidak lahir dari teknologi, tetapi kesetaraan relasi antara manusia dan alam. (fiya)

Tinggalkan Balasan