MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Indonesianis sekaligus Dosen di Boston University, Robert W. Hefner menyebut bangsa Indonesia selayaknya bersyukur karena menjadi tempat berdirinya dua ormas keagamaan terbesar di dunia yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
Kebesaran Muhammadiyah dan NU, katanya, tidak ada tandingannya di dunia ini, termasuk dengan ormas maupun gerakan keagamaan di negara-negara yang mayoritas penduduknya pemeluk agama Islam.
“Kadang-kadang orang dalam negeri di Indonesia sini tidak tahu bahwa kedua organisasi ini, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama adalah ormas yang berdasar agama yang paling besar di dunia,” kata Hefner dalam kanal YouTube Jeda Nulis yang diunggah pada Rabu (26/11).
Bahkan tidak hanya sebagai ormas terbesar di kalangan dunia Islam saja. Muhammadiyah dan NU menurutnya juga menjadi ormas dengan basis keagamaan terbesar di antara gerakan-gerakan keagamaan lintas iman di seluruh dunia.
Muhammadiyah dan NU menurutnya tidak hanya besar dari ukuran, tapi gerakannya begitu hidup dan dirasakan sangat nyata. Hefner memuji kedua ormas ini menjalankan organisasi dengan sangat mengesankan.
“Organisasi yang menjalankan sebuah etika sosial yang boleh dikatakan berdasar, berlandaskan yang dalam agama Islam disebut sebagai maslahat,” tuturnya.
Penjaga Nasionalisme di Indonesia
Tak hanya itu, selain misi keagamaan yang brilian oleh Muhammadiyah dan NU, kedua ormas ini juga menjadi pilar nasionalisme di Indonesia. Terkait semangat nasionalisme ini, Hefner menyadari ada sebuah keunikan antara relasi agama dan semangat nasionalisme di Indonesia.
Dia membandingkan semangat nasionalisme di Indonesia dengan Perancis – alih-alih merangkul atau mengajak agama ke tengah, di Perancis nasionalisme justru meminggirkan atau menyingkirkan agama dari topik-topik nasionalisme.
“Nasionalisme Indonesia tidak hanya mengakomodir agama, dan terutama agama Islam, tapi semua agama yang diakui,” ungkapnya.
Kenyataan tersebut menegaskan, bahwa meski Muhammadiyah dan NU merupakan organisasi dakwah akan tetapi keduanya juga memberikan sumbangsih besar pada nasionalisme Indonesia, sehingga pilar-pilar negara demokrasi tetap tegak di negeri ini.
“Kewarganegaraan dan demokrasi di Indonesia itu berangkat dari sebuah keyakinan, sebuah konveksi rohani, spiritual – suatu spiritual convection yang menurut saya sangat inklusif dan itu sebetulnya mencerminkan sumbangan orang muslim pada umumnya dan antara lain Muhammadiyah dan NU,” imbuhnya.
Sisi lain yang mengesankan baginya adalah Islam dimanapun ialah tetap Islam, akan tetapi ketika dia melihat Islam di Asia Tenggara khususnya di Indonesia – Hefner menemukan keistimewaan. Menurutnya, Islam di Indonesia peradabannya berbeda dengan Islam di kawasan lain.
