MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANDUNG – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan pidato dalam peringatan Milad ke-113 Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Bandung, Selasa (18/11).
Haedar menegaskan pentingnya komitmen seluruh elemen persyarikatan untuk memajukan kesejahteraan bangsa secara nyata dan berkelanjutan. Ia juga mengucapkan terima kasih atas apresiasi dan kerja sama berbagai pihak, termasuk Presiden Republik Indonesia dan menteri kabinet.
“Kami sungguh bangga dan haru atas apresiasi dan penghargaan itu. Bukti dari kehadiran Muhammadiyah untuk bangsa, negara, untuk umat tercinta itu memang dirasakan kemaslahatannya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa seluruh kiprah Muhammadiyah merupakan wujud dari nilai yang terkandung dalam ayat “Wa mā arsalnāka illā raḥmatan lil‘ālamīn.”
Tema Milad dan Makna Kesejahteraan
Milad ke-113 mengambil tema Memajukan Kesejahteraan Bangsa. Haedar menegaskan bahwa amanat konstitusi mengenai kesejahteraan umum harus menjadi kewajiban seluruh penyelenggara negara.
“Perintah konstitusi itu bukan normatif, yang sebenarnya punya kekuatan otoritatif yang kuat. Jangan biarkan kata-kata itu lepas sekadar kata tanpa kekuatan. Itu amanat konstitusi yang harus diwujudkan dalam dunia nyata,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kesejahteraan memiliki dimensi materi dan non-materi. Haedar menyinggung hasil kajian internasional tentang tingkat kebahagiaan Indonesia yang tinggi, tetapi menegaskan bahwa aspek ekonomi tetap penting.
Selain itu, Haedar mengingatkan bahwa Muhammadiyah tidak boleh terlena oleh kesuksesan masa lalu. “Kami tidak ingin berada di zona nyaman. Kami tidak ingin berada di zona aman. Kami ingin berbuat dari hari ini ke depan yang lebih baik lagi,” katanya.
Ia menekankan perlunya transformasi di bidang pendidikan, kesehatan, sosial-ekonomi, dan dakwah agar lebih unggul dan berdampak luas. “Lembaga-lembaga pendidikan kita harus semakin unggul, semakin berkemajuan, dan tetap mampu memenuhi hajat hidup masyarakat dari bawah sampai atas,” ujarnya.
Haedar juga menyoroti masalah ketimpangan ekonomi dan kesejahteraan, terutama di daerah-daerah terpencil.
Ia menyampaikan dukungan pada gagasan Presiden Prabowo Subianto mengenai ekonomi kerakyatan, termasuk program koperasi Merah Putih yang menjadi leading sector oleh Zulkifli Hasan.
“Saya yakin ini gagasan luar biasa dan perlu kita kawal. Beliau sendiri menyadari dapat 10 persen saja dari 80.000 itu sudah merupakan tonggak awal untuk membangun kesejahteraan rakyat lewat koperasi,” ujar Haedar.
Ia juga menekankan pentingnya akselerasi UMKM, integrasi kebijakan ekonomi, dan ketahanan pangan nasional.
Haedar menegaskan bahwa pasal 33 UUD 1945 memiliki dua dimensi: menolak liberalisme dan menegaskan peran negara dalam mensejahterakan rakyat.
“Kalau lima tahun saja kita berbuat maksimal antara pemerintah dengan seluruh kekuatan rakyat, termasuk Muhammadiyah, memajukan kesejahteraan bangsa itu menjadi semakin ada progresifnya,” ujarnya optimis.
Di akhir pidatonya, Haedar menekankan pentingnya menjaga kekuatan sistem dalam organisasi Muhammadiyah. “Kesuksesan Muhammadiyah itu pada sistem. Jadi kita perkuat sistem, perkuat kebersamaan, dan spirit kita dalam pergerakan terus kita tingkatkan,” katanya.
Ia menutup dengan permohonan maaf kepada seluruh pimpinan wilayah, daerah, cabang, dan ranting jika ada kekurangan dalam perjalanan gerakan.
“Masih ada dua tahun lagi ke depan kita optimalkan langkah bersama menjadikan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta,” tutup Haedar.
