MUHAMMADIYAH.OR.ID, TANGERANG – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas mengapresiasi Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah dalam menyiapkan kader pemberdayaan.
Langkah penyiapan kader pemberdayaan masyarakat, kata Busyro, bagian dari menjaga kesinambungan gerakan yang dilandasi oleh semangat teologi Al Ma’un yang diajarkan oleh Kiai Ahmad Dahlan.
Teologi Al Ma’un menurutnya masih kontekstual di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini untuk memangkas ketimpangan kelompok marjinal yang terasa semakin curam dan mereka semakin tak berdaya.
“Betapa semakin pentingnya ajaran Al Qur’an di antaranya surat Al Ma’un itu, dan itu menjadi menjadi filosofi, ideologi Kiai Ahmad Dahlan. Situasi yang kita hadapi saat ini menggambarkan peta konkrit masyarakat yang terpinggirkan,” kata Busyro pada Rabu (17/7).
Keterpinggiran masyarakat, imbuhnya, terjadi atau dipengaruhi oleh faktor kultural maupun struktural. Oleh karena itu Busyro mendukung gerakan yang dilakukan oleh MPM ketika melakukan pendampingan ke kelompok pemulung.
Menurutnya masalah yang dihadapi oleh kelompok begitu kompleks, tidak hanya masalah kesehatan dan pendidikan, tapi juga tersumbatnya kanal ekonomi mereka.
Oleh karena itu, Busyro berharap kader pemberdayaan yang dilahirkan oleh MPM semakin terlatih, memiliki kepekaan sosial, serta tidak hanya matang teori, tapi juga praktik langsung dengan realitas-realitas.
Harapan lain juga disampaikan, supaya kader pemberdayaan ini tidak hanya berkecimpung di internal persyarikatan, tapi melebarkan jangkauan. Sebab mereka juga kader bangsa, dan kader kemanusiaan universal.
Sebagaimana diketahui MPM PP Muhammadiyah pada 12-15 Juli 2024 menyelenggarakan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) Nasional I di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) yang diikuti oleh perwakilan dari 19 MPM Wilayah se-Indonesia.
Dari kegiatan kaderisasi itu didorong oleh Busyro supaya dibuat Rencana Tindak Lanjut (RTL). Hasilnya tidak hanya sebagai masukan untuk pemberdayaan yang dilakukan oleh Muhammadiyah, tapi juga masukan kepada pemerintah.
“Sebab pemerintah merupakan partner Muhammadiyah sejak zaman Kiai Ahmad Dahlan,” katanya.
Semangat voluntarisme yang dimiliki oleh kader pemberdayaan masyarakat harus dipupuk, dan dijalankan secara sistematis sebagai sebuah gerakan utuh dengan semangat teologi Al Ma’un yang kontekstual dengan dinamika zaman.






