MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Merujuk ke beberapa sumber, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agung Danarto menyebut angka kemiskinan di Indonesia sulit beranjak dari angka 9 persen.
Meski berbagai cara telah ditempuh oleh pemerintah untuk terus menekan angka kemiskinan, namun terasa sulit untuk menghasilkan angka yang lebih kecil dari 9 persen dari 275,5 juta jiwa penduduk Indonesia.
Melihat sebaran penduduk miskin di Indonesia terkini, jika di rata-ratakan tidak terdapat ketimpangan berarti antara masyarakat miskin yang berada di perkotaan maupun perdesaan.
“Orang miskin ini tentu yang pertama kali menjadi objek dakwahnya Muhammadiyah, dengan kebangkitan terhadap Al Ma’un,” kata Agung Danarto pada Jumat (12/7) di Pembukaan SEKAM Nasional I di UMJ.
Semangat Al Ma’un yang diajarkan oleh Kiai Ahmad Dahlan ini memiliki daya dobrak yang kuat terhadap penindasan yang dihadapi oleh umat dan bangsa, tidak hanya relevan di masa dulu, tapi juga tetap aktual di masa sekarang.
Melihat kemiskinan yang terjadi, kata Agung, tidak bisa digebyah uyah, bahwa kemiskinan yang dialami penyebabnya karena faktor struktural, tapi juga ada faktor besar lain yang melahirkan kemiskinan yaitu faktor struktural.
“Katakanlah kalau petani itu ada mafia beras, beras itu dikuasai oleh mafia-mafia. Termasuk ketika panen raya tiba, yang dilakukan adalah impor besar-besaran di luar negeri,” katanya.
Agung juga menanyakan, kenapa tiap kali petani Indonesia sedang panen raya, harga-harga produk pertanian harganya anjlok? Tapi ketika produk pertanian naik, kesejahteraan yang seharusnya dirasakan petani masih jauh panggang dari api.
Pada kesempatan ini Agung juga menyampaikan risiko menjadi kader pemberdayaan. Menurutnya jika pemberdayaan dilakukan dengan serius, maka persoalan yang pelik akan dihadapi – bahkan juga akan berhadapan dengan para mafia.
Gerakan pemberdayaan menurut Agung juga tidak perlu dilakukan neko-neko, buat apa terlalu banyak kegiatan tapi hasilnya sedikit. Oleh karena itu, dia meminta untuk fokus akan tetapi dampak manfaat yang dirasakan banyak.






