Oleh: Ilham Ibrahim
Judul Buku : MENTJETAK KIJAHI KEMADJOEAN: Setengah Abad Perjalanan Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah
Penulis : Hamdan Hambali, dkk
Penyunting : Asep Rahmat Fauzi dan Ghifari Yuristiadhi Masyhari Makhasi
Penerbit : Suara Muhammadiyah
Tahun Terbit : 2021
Tebal : 196 halaman
Mentjetak Kijahi Kemadjoean merupakan buku yang ditulis dengan pendekatan historis. Secara umum berisi tentang perjalanan sejarah Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) di Yogyakarta dari periode 1968 sampai 2021. Meski buku ini hadir dalam rangka mendokumentasikan dinamika perkembangan PUTM yang kini telah berusia setengah abad. Namun, di dalamnya terdapat gambaran umum seputar berdirinya Majelis Tarjih hingga pengaruhnya di persyarikatan. Karenanya, buku ini tidak hanya menyajikan satu lembaga pendidikan melainkan suatu studi kasus tentang bagaimana makna “ulama” dipahami dan dikontekstualkan di kalangan kaum pembaharu.
Buku ini dibagi ke dalam lima bab. Bab pertama adalah pendahuluan. Berisi tentang penegasan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dakwah amar makruf nahi munkar dan tajdid untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dalam mewujudkan tujuannya ini, dibutuhkan tenaga ulama untuk menggerakkan roda persyarikatan. Apalagi, saat satu per satu ulama tarjih Muhammadiyah berguguran kemudian timbul satu kesadaran pada tahun 1960-an untuk menghadirkan sebuah institusi pendidikan kader ulama tarjih Muhammadiyah.
Bab kedua menjabarkan tentang gambaran historis berdirinya Majelis Tarjih. Dalam perjalanan Muhammadiyah memasuki dekade kedua, terdapat banyak momentum yang mendorong terbentuknya Majelis Tarjih tahun 1927. Wacana keagamaan masyarakat muslim Hindia Belanda yang termasuk di dalamnya warga Muhammadiyah yang berminat pada fikih sehingga menghadirkan berbedaan pendapat antar-pimpinan Muhammadiyah menjadi faktor internal. Sedangkan hadirnya kolonialisme yang mendorong berkembangnya zending-misi, masih kuatnya kejawen, dan intensitas interaksi Ahmadiyah menjadi faktor eksternal.
Jika bagi sebagian pihak kelahiran Majelis Tarjih sebagai titik tolak spirit puritan di tubuh Muhammadiyah, namun dengan apik buku ini memaparkan justru kehadiran Majelis Tarjih turut serta membangun lingkungan yang kondusif untuk perbedaan pendapat. Tak berlebihan bila dikatakan kehadiran Majelis Tarjih di tubuh Muhammadiyah membawa era baru yang kemudian membincangkan fikih atau syariat dalam intesistas yang lebih banyak. Tercatat sejak berdirinya hingga akhir masa Hindia Belanda, Majelis Tarjih telah menghasilkan sejumlah keputusan di bidang akidah, ibadah, dan muamalah.
Bab ketiga berisi tentang cikal bakal pendirian PUTM di Yogyakarta. Dalam bab ini pertama-tama mengurai lanskap pendidikan di Nusantara saat Kiai Dahlan memulai gerakannya bersama persyarikatan. Setelah bertamasya ke berbagai pusat-pusat pembelajaran, produk pendidikan yang diinginkan Kiai Dahlan serta para penerusnya adalah menjadi seorang Muslim sejati yang peka dan mampu menerjemahkan ajaran Islam untuk menghadapi tantangan-tantangan zaman.
Setelah penerus-penerus Kiai Dahlan berhasil mengembangkan pendidikan, muncul kesadaran akan pentingnya lembaga kaderisasi ulama. Kesadaran ini melahirkan Madrasah Zoe’amaa dan Za’imaat Muhammadiyah. Konon salah satu alumninya ialah mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah KH. Azhar Basyir. Sayangnya, pada tahun 1942, Madrasah Zoe’amaa dibom dan hancur berantakan oleh penjajah Jepang. Akibatnya dua lembaga kaderisasi ulama Muhammadiyah paling awal ini tidak beroperasi lagi.
Setelah ketiadaan Madrasah Zoe’amaa, tokoh-tokoh Muhammadiyah kembali khawatir akan defisitnya ulama. Wardan Diponingrat, salah seorang tokoh Muhammadiyah menulis dalam Majalah Suara Muhammadiyah tahun 1968 yang isinya menyayangkan bila gerak langkah Muhammadiyah semakin meluas, demikian pula dengan berbagai amal usaha, akan tetapi kekurangan ulama yang cakap mengatasi berbagai problem masyarakat di setiap daerah dan wilayah.
Segala kekhawatiran itu kemudian terjawab pada tanggal 12 Muharram 1388 H atau 10 April 1968 M sekolah kader tarjih dibuka secara resmi dengan nama Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) berkedudukan di Yogyakarta. Pendirian lembaga pengkaderan ulama ini membawa satu misi yaitu melanjutkan tongkat estafet perjuangan yang telah disusun oleh tokoh-tokoh Majelis Tarjih.
Bab keempat berisi tentang periodisasi kepemimpinan PUTM dari masa ke masa. Bagian ini perjalanan PUTM terjadi dinamika pasang surut. Ada semangat yang besar di awal berdirinya, tetapi bersamaan dengan itu rumusan baku seperti apa idealnya sistem pendidikan ulama ini belum bisa ditentukan. Nyala semangat yang besar untuk membangun PUTM sempat padam dalam kurun 12 tahun. Bangkit kembali dengan inovasi-inovasi dan terus berkembang hingga hari ini.
Pada bab ini menceritakan babak demi babak perjalanan PUTM yang dibagi dalam periode kepemimpinan mudir PUTM. Pertama, periode KH. Umar Afandi (1968–1977). Pada periode ini disebut sebagai pencarian bentuk awal PUTM. Hanya berhasil menelurkan tiga angkatan, yakni angkatan pertama antara 1968–1971 pusat pendidikannya di rumah bapak Supriyadi di Notoprajan, Ngampilan, Yogyakarta. Angkatan kedua antara 1971–1972, dan angkatan ketiga antara 1972–1975 lokasi pendidikannya di rumah KH. Umar Afandi di daerah Suronatan, Ngampilan, Yogyakarta.
Pada tahun 1975 hingga 1989 PUTM mengalami kevakuman. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor yang salah satunya ialah terlalu sedikitnya thalabah yang mampu menyelesaikan studinya di PUTM. Akibatnya membuat Pimpinan Pusat Muhammadiyah merasa tidak puas dan menarik biaya operasional. Dalam pandangan elit Muhammadiyah, proyek yang cukup bergengsi mestinya bisa melahirkan banyak ulama, bukan hanya sekadar meluluskan yang bahkan kurang dari 10 orang.
Vakumnya PUTM dalam beberapa tahun menandakan terputusnya kaderisasi ulama di lingkungan Muhammadiyah, terutama yang secara khusus mengerti kaidah-kaidah fikih yang dikembangkan persyarikatan. Selain itu, meninggalnya beberapa ulama besar di lingkungan Muhammadiyah semakin mendesak untuk segera kembali membangunkan PUTM dari tidur panjangnya.
Kedua, periode KH. Suprapto Ibnu Juraimi I (1989–1997). Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta Muhammad Muqoddas membangun kembali PUTM dengan menunjuk Ibnu Juraimi sebagai Mudir. Bekal pengalaman memimpin pondok pesantren, menjadi pertimbangan utama untuk menunjuk dirinya, selain karena kualitas ilmu yang mumpuni yang dimiliki Ibnu Juraimi.
Mata kuliah yang diajarkan masih didominasi oleh kitab kuning dan materi kemuhammadiyahan. Dalam adab sehar-hari lebih menekankan pada aspek ritual ibadah dan akhlak. Banyak thalabah yang berguguran lantaran beberapa alasan seperti tidak kuat dengan ritme kegiatan PUTM yang menuntut disiplin tinggi, sulitnya memahami pelajaran-pelajaran turats yang disampaikan dosen, jauh dari lingkaran keluarga (anak-istri), fasilitas tempat tinggal yang sangat terbatas, dan rayuan untuk masuk kampus yang lebih mentereng dan berijazah.
Ketiga, periode KH. Ghazali Mukri (1999–2002). Pada periode ini, tempat pembelajaran PUTM yang selama ini dilaksanakan di Masjid at-Taqwa Suronatan berpindah ke daerah Gedongkiwo MJ I/735 B Mantrijeron. Di sana PUTM menempati bangunan Sekolah Dasar Muhammadiyah yang sebelumnya telah dilakukan renovasi dan penambahan beberapa unit bangunan.
Berbeda dengan periode sebelumnya, pada kepemimpinan Ghazali lebih ditekankan pada pengembangan pemikiran akademik kampus. Selain mata kuliah keislaman dan keulamaan, pada periode ini ditambahkan beberapa mata kuliah baru. Inilah salah satu hal penting yang perlu dicatat pada periode kepemimpian Ghazali terkait proses perkuliahan, yaitu terlibatnya beberapa pengajar dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, yang mengampu mata kuliah seputar pemikiran Islam kontemporer.
Pada inilah para thalabah mulai menyampaikan kegelisahan atas ketiadaan ijazah formal PUTM. Keberanian mereka tidak lepas dari dukungan para senior alumni. Usaha keras para thalabah di angkatan ini untuk mendorong formalisasi PUTM akhirnya tak berbuah manis. Alasan tidak mau melihat PUTM sama kualitasnya dengan perguruan-perguruan tinggi milik Muhammadiyah yang lain. Alumni PUTM hanya boleh fokus mengabdikan diri dan mencurahkan hati dan pikirannya untuk agama Islam dan persyarikatan Muhammadiyah.
Keempat, periode KH. Suprapto Ibnu Juraimi II (2003–2008). Setelah Ghazali Mukri dianggap cukup untuk memimpin PUTM, seketika itu pula PWM DIY mempercayakan kembali kepemimpinan PUTM pada tokoh kharismatik, Suprapto Ibnu Juraimi. Pada masa ini, suara-suara agar PUTM dijadikan lembaga formal berijazah mulai terdengar kembali. Keresahaan dari sebagian thalabah tentang masa depan mereka setelah lulus PUTM mulai tampak.
Akhirnya persoalan terkait sistem pendidikan PUTM ini dibawa ke sidang Tanwir Muhammadiyah tahun 1428 H/2007 M. Setahun kemudian, tarik ulur tentang ijazah formal ini dapat diselesaikan dengan penandatangan memorandum of understanding (MoU) antara Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Universitas Ahmad Dahlan 1 Juli 2008. Setelah proses penandatangan MoU tersebut dimulailah babak baru sistem pendidikan di PUTM.
Kelima, periode Prof. Drs. H. Saad Wahid (2009–2016). Pada periode ini ada beberapa perkembangan penting di PUTM. Baik secara kelembagaan maupun pada materi yang diajarkan kepada kader-kader Tarjih. Salah satu dari perkembangan tersebut adalah mulai diterimanya kader putri untuk menuntut ilmu di PUTM. Kebijakan ini adalah hasil kesepakatan antara pihak Majelis Tarjih dan Tajdid dengan Pimpinan Pusat Aisyiyah.
Untuk meningkatkan kapasitas akademik para kader tarjih, PUTM dibawah kepemimpinan Prof. Saad mewajibkan thalabah menulis sebuah karya ilmiyah sebagai persyaratan lulus. Aturan ini sama seperti kewajiban menulis skripsi, tesis, atau disertasi pada perguruan tinggi, tapi tugas akhir di PUTM ini disebut risalah. Penulisan risalah sebagai syarat kelulusan pertama kali diterapkan pada angkatan 2009.
Keenam, periode Drs. H. Dahwan Muchrodji, M.S (2016-sekarang). Pada masa ini, secara praksis melanjutkan apa yang sudah dirintis oleh para pendahulunya. Menjaga dan melestarikan konsep pendidikan yang berbasis kitab namun tidak anti terhadap perkuliahan bergaya modern dalam pemanfaatan tekhnologi. Perbedaannya ialah mulai sadar akan pentingnya dokumentasi dan database yang berharga bagi perjalanan PUTM ke depannya. Karenanya, pada periode ini banyak hal yang terdokementasikan dengan baik mulai dari pengabdian, perkuliahan, Mubaligh Hijrah, bakti sosial, dan lain sebagainya.
Sebagai penutup, perjalanan PUTM ini menarik karena kita akan menemukan sistem pendidikan dengan integrasi kurikulum antara ilmu alat untuk studi Islam dan umum, kesempatan melanjutkan studi ke Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Universitas Ahmad Dahlan, dan mendirikan PUTM untuk putri. Hal ini adalah wujud iktiyar meregenerasi ulama tarjih yang tidak boleh terputus dalam rangka menjaga marwah ciri progresivitas dan modernitas pandangan keagamaan persyarikatan Muhammadiyah.

