Kamis, 24 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Nasyiatul Aisyiyah melakukan Gerakan Revolusi Mental melalui Kampanye Pencegahan Perkawinan Anak

Oleh aanardianto 1 Menit Min
Nasyiatul Aisyiyah melakukan Gerakan Revolusi Mental melalui Kampanye Pencegahan Perkawinan Anak

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA– Pimpinan Nasyiatul ‘Aisyiyah  (PPNA) mengadakan Talkshow Nasional “Peningkatan Kapasitas Kader Nasyiatul ‘Aisyiyah untuk Kampanye Pencegahan Perkawinan Anak” selama dua hari (3-4 Agustus 2021) secara hybrid (luring dan daring)  untuk mencegah penyebaran Covid-19.


Kegiatan yang diikuti oleh kader Nasyiatul ‘Aisyiyah se-Indonesia ini merupakan tindak lanjut MoU antara Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dalam bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.


Menurut Ketua Umum PPNA, Dyah Puspitarini, kegiatan ini merupakan kepedulian PPNA terhadap tingginya perkawinan anak di Indonesia.


“Perkawinan anak merupakan salah satu penyebab stunting, maka harus kita cegah terutama di masa pandemin ini”.
Agung Danarto, Sekretaris PP Muhammadiyah dalam sambutannya mengatakan, perkawinan anak adalah pernikahan yang tidak dipersiapkan.


“Apa yang dilakukan PPNA merupakan kepedulian yang tinggi untuk melahirkan keluarga sakinah” Ujarnya.


Selain itu, menurut Faozan Amar, Koordinator Tim Kerja PP Muhammadiyah  dalam materinya menyampaikan, perkawinan anak berkorelasi dengan kemiskinan.


“Maka PPNA memiliki peran strategis untuk mengentaskan problem sosial ini, karena dikenal paling dekat dengan keluarga”.


Yayan Sopyani, Koordinator Sekretariat Gugus Tugas Nasional Gerakan Nasional Revolusi Mental Kemenko PMK  mengapresiasi program yang dilakukan oleh PPNA.
“Pembangunan manusia unggul dan mandiri dimulai dari keluarga yang harmonis, perkawinan anak kontradiktif dengan keluarga  harmonis”.Ujarnya.


Sementara salah satu narasumber lain, Rita Pranawati, Wakil Ketua KPAI, berpesan PPNA dapat melakukan kampanye pencegahan perkawinan anak secara efektif dengan melakukan edukasi dan kampanye yang tepat sasaran.


“Anak, orang tua, kepala desa, ustadz, ustadzah, sekolah, rumah sakit dan komunitas remaja adalah bagian paling penting dalam pencegahan perkawinan anak” pesannya.

Tinggalkan Balasan